Tips-trick|Software|

Download Software Gratis

Translate

Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juli 2010

PENYAKIT TERMINAL


PENGERTIAN

 Penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak ada obatnya, kematian tidak dapat dihindari dalam waktu yang bervariasi. (Stuard & Sundeen, 1995).

Penyakit pada stadium lanjut, penyakit utama tidak dapat diobati, bersifat progresif, pengobatan hanya bersifat paliatif ( mengurangi gejala dan keluhan, memperbaiki kualitas hidup. ( Tim medis RS Kanker Darmais, 1996)

 KRITERIA PENYAKIT TERMINAL

1.    Penyakit tidak dapat disembuhkan

2.    Mengarah pada kematian

3.    Diagnosa medis sudah jelas

4.    Tidak ada obat untuk menyembuhkan

5.    Prognosis jelek

6.    Bersifat progresif

 PERBEDAAN ANAK DENGAN DEWASA DALAM MENGARTIKAN KEMATIAN,
1. Jangan berfikir kognitif dewasa dengan anak tentang arti kematian
2. anak tidak memiliki kematangan emosional dalam mempersepsikan tentang arti kematian
3. mekanisme koping pada anak belum terbentuk
4. Anak di ajak berdiskusi mengenai / tentang tuhan,surga, dan benda-benda yang tidak terlihat
KEBUTUHAN ANAK YANG TERMINAL
. Komunikasi,
Dalam hal ini anak sangat perlu di ajak unuk berkomunikasi atau berbicara dengan yang lain terutama oleh kedua orang tua karena dengan orang tua mengajak anak berkomunikasi /berbicara anak merasa bahhwa ia tidak sendiri dan ia merasa ditemani
2. Memberitahu kepada anak bahwa ia tidak sendiri dalam menghadapi penyakit tersebut
3. Berdiskusi dengan siblings (saudara kandung) agar saudara kandung mau ikut berpartisipasi dalam perawatan atau untuk merawat
4. Social support meningkatkan koping
 MENJELASKAN KEMATIAN PADA ANAK
1. Kebanyakan seorang psikolog percaya bahwa dengan berkata jujur merupakan strategi yang terbaik dalam mendiskusikan kematian dengan anak
2. Respon anak terhadap pertanyaan mengenai kematian merupakan dasar tingkat kematangan anak dalam mengartikan kematian
3. pada anak pra sekolah ,anak mengartikan kematian sebagai : kematian adalah sudah tidak ada nafas, dada dan perut datar, tidak bergerak lagi,dan tidak bisa berjalan seperti layaknya orang yang dapat berjalan seperti orang sebelum mati / meninggal
4. kebanyakan anak- anak( anak yang menderita penyakit terminal ) membutuhkan keberanaian, bahwa ia di cintai dan tidak akan merasa di tinggalkan
5. Tanpa memandang umur, sebagai orang tua seharusnya sensitife dan simpati, mendukunng apa yang anak rasakan
 Masalah – masalah pada pasien penyakit terminal

A. Masalah fisik

       - Nyeri

                            - perubahan kulit

                            - Distensi

                            - Konstipasi

                            - Alopesia

                            - kelemahan otot

 B. Masalah psikologi

 1)   Ketergantungan tinggi

2)   Kehilangan kontrol

3)   Kehilangan produktifitas

4)   Hambatan dalam berkomunikasi

C. Masalah sosial

1)   Menarik Diri

2)   Isolasi social

 D. Masalah spiritual

1)   Kehilangan harapan

2)   Perencanaan saat ajal tiba

 KEHILANGAN DAN BERDUKA

Kehilangan (loss) adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami individu ketika terpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan.

 BENTUK – BENTUK KEHILANGAN

1. Kehilangan  yang nyata (actual loss)

kehilangan orang atau objek yang tidak lagi dirasakan, dilihat, diraba

Ex. Kehilangan anggota tubuh, anak, peran, hubungan.

2. Kehilangan yang dirasakan (Perceived loss)

kehilangan yang sifatnya unuk menurut orang yang mengalami kedukaan.

Ex. Kehilangan harga diri, percaya diri

 JENIS KEHILANGAN

1)   Kehilangan objek eksternal

2)   Kehilangan lingkungan yang dikenal

3)   Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti

4)   Kehilangan suatu aspek diri

5)   Kehilangan hidup

 DAMPAK KEHILANGAN

1. Anak – anak

              kehilangan dapat mengancam untuk berkembang à regresi à takut ditinggal dan sepi

2. Remaja atau dewasa muda

              kehilangan dapat menyebabkan desintegrasi dalam keluarga

3. Dewasa tua

              kehilangan khususnya kematian pasangan hidup à pukulan berat dan menghilangkan semangat

 BERDUKA

1.    Berduka (grieving) merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan.

2.    Berduka diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada masing-masing orang dan didasarkan pengalaman pribadi, ekspektasi budaya, dan keyakinan spiritual yang dianutnya.

3.    Berkabung adalah periode penerimaan terhadap kehilangan dan berduka.

4.    Berkabung terjadi dalam masa kehilangan dan sering dipengaruhi oleh kebudayaan atau kebiasaan .

 ENIS BERDUKA

1. Berduka normal

              Perasaan, perilaku,  dan reaksi yang normal

2. Berduka antisipatif

              Proses melepaskan diri yang muncul sebelum kehilangan sesungguhnya terjadi.

3. Berduka yang rumit

              Seseorang sulit maju ke tahap berikutnya.

              Berkabung tidak kunjung berakhir.

4.Berduka tertutup

              Kedukaan  akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka.

 RESPON BERDUKA

Tahap respon berduka menurut Kubler - Ross :

1.    Denial

2.    Anger

3.    Bargainning

4.    Depression

5.    Acceptance  

                          

1. Denial (Penolakan)

1.    Reaksi pertama

2.    Syok, tidak percaya, mengerti, atau mengingkari kenyataan.

3.    Reaksi fisik :

o                Letih                           

o                lemah                           

o                pucat

o                mual                           

o                diare                           

o                menangis             

o                gangguan pernafasan                           

o                gelisah

o                detak jantung cepat

o                tidak tahu berbuat apa


4.    Berlangsung beberapa menit hingga beberapa tahun

2. Anger (Marah)

5.    Individu menolak kehilangan.

6.    Kemarahan timbul sering diproyeksikan kepada orang lain atau dirinya sendiri.

7.    Perilaku :

·     agresif                                             

·     bicara kasar

·     menyerang orang lain

·     menolak pengobatan

·     menuduh dokter atau perawat tidak kompeten

8.    Respon fisk :

·                                   muka merah                           

·                                   denyut nadi cepat                           

·                                   gelisah                                         

·                                   susah tidur

·                                   tangan mengepal                           

3. Bargainning (Tawar – menawar)

ü       Penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan.

ü       Berupaya melakukan tawar – menawar dengan memohon kemurahan Tuhan.

 4. Depression ( Depresi)

ü       Menunjukan sikap menarik diri

ü       Kadang bersikap sangat penurut

ü       Tidak mau bicara

ü       Menyatakan keputusasaan

ü       Rasa tidak berharga

ü       Bisa muncul keinginan bunuh diri

ü       Gejala fisik :

o                  menolak makan

o                  susah tidur

o                  letih                                                       

o                  libido turun

5. Acceptance ( Penerimaan)

·                  Reorganisasi perasaan kehilangan

·                  Pikiran tentang objek yang hilang akan mulai berkurang atau hilang beralih ke objek baru.

·                  Menerima kenyataan kehilangan

·                  Mulai memandang ke depan.

·                  Apabila dapat memulai tahap ini dan menerima dengan perasaan damai à tuntas

·                  Apabila kegagalan masuk ketahap penerimaan à mempengaruhi dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya

ASKEP KEHILANGAN DAN BERDUKA

A.                                                                      PENGKAJIAN

'       Faktor genetik

'       Kesehatan fisik

'       Kesehatan mental

'       Pengalaman kehilangan dimasa lalu

'       Struktur kepribadian

'       Adanya stresor perasaan kehilangan


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.                                                                     Berduka b.d kehilangan aktual atau kehilangan yang dirasakan

2.                                                                     Berduka antisipatif b.d perpisahan atau kehilangan

3.                                                                     Berduka disfungsional b.d kehilangan orang/benda yang dicintai atau memiliki arti besar

 

C. PERENCANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Secara umum :

1.                                                                                 Membina dan meningkatkan hubungan saling percaya dengan cara :

2.                                                                                 Mendengarkan pasien berbicara

3.                                                                                 Memberi dorongan agar agar pasien mau mengungkapkan perasaannya.

4.                                                                                 Menjawab pertanyaan pasien secara langsung

5.                                                                                 Menunjukkan sikap menerima dan empati             

6.                                                                                 Mengenali faktor-faktor yang mungkin menghambat.

7.                                                                                 Mengurangi atau menghilangkan faktor penghambat.

8.                                                                                 Memberi dukungan terhadap respons kehilangan pasien.

9.                                                                                 Meningkatkan rasa kebersamaan antar anggota keluarga.

10.                                                                           Menentukan tahap keberadaan pasien.

 

Secara khusus :

1.                                                                        Tahap Denial

Þ       Memberikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaan

Þ       Menunjukan sikap menerima dengan ikhlas dan mendorong pasien untuk berbagi rasa

Þ       Memberi jawaban yang jujur terhadap pertanyaan pasien tentang sakit, pengobatan


2. Tahap Anger

Mengijinkan dan mendorong pasien mengungkapkan rasa marah sacara verbal tanpa melawan kemarahan :

-              Menjelaskan kepada keluarga bahwa kemarahan pasien sebenarnya tidak ditujukan kepada mereka.

-              Membiarkan pasien menangis

-              Mendorong pasien untuk membicarakan kemarahannya

 3. Tahap Bargainning

Membantu pasien mengungkapkan rasa bersalah dan takut :

o      Mendengarkan ungkapan dengan penuh perhatian

o      Mendorong pasien untuk membicarakan rasa takut atau rasa bersalahnya

o      Bila psien selalu mengungkapkan “kalau” atau “seandainya ….” beritahu pasien bahwa perawat hanya dapat melakukan sesuatu yang nyata.

o      Membahas bersama pasien mengenai penyebab rasa bersalah dan rasa takunya.

 5. Tahap Depression

- Membantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah dan takut :

o      Mengamati perilaku pasien dan bersama dengannya membahas perasaannya

o      Mencegah tindakan bunuh diri atau merusak diri sesuai derajat risikonya


- Membantu pasien mengurangi rasa bersalah :

o      Menghargai perasaan pasien

o      Membantu pasien menemukan dukungan yang positif dengan mengaitkan dengan kenyataan

o      Memberi kesempatan menangis dan mengungkapkan perasaan

o      Bersama pasien membahas pikiran negatif yang selalu timbul

 

5. Tahap Acceptance

   Membantu pasien menerima kehilangan yang tidak bisa dielakan :


o      Membantu keluarga mengunjungi pasien secara teratur

o      Membantu keluarga berbagi rasa

o      Membahas rencana setelah masa berkabung terlewati

o      Memberi informasi akurat tentang kebutuhan pasien dan keluarga.

 


SEKARAT DAN KEMATIAN

o      Sekarat (dying) merupakan kondisi pasien yang sedang menghadapi kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal,

o      Kematian ( death) merupakan kondisi terhentinya pernafasan, nadi, dan tekanan darah, serta hilangnya respon terhadap stimulus eksternal, ditandai denagn terhentinya aktifitas listrik otak, atau dapat juga dikatakan terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap atau terhentinya kerja otak secara menetap.

o      Perubahan tubuh setelah kematian

o      Algor mortis (dingin)

o      suhu tubuh perlahan – lahan turun

o      Rigor mortis ( kaku mayat)

o      terjadi sekitar 2 – 4 jam setelah kematian.

o      Livor mortis (lebam mayat)

o      sel darah mengalami hemolisis dan darah turun kebawah

o      Pembekuan darah

o      Putrefaction (Pembusukan) dan autolisis

 DOWNLOAD FILE TYPE DOC / MS-WORD KLIK DISINI

Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.

Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat langsung seperti pada masalah kesehatan fisik, memperlihatkan gejala yang berbeda dan muncul oleh berbagai penyebab.
Proses keperawatan merupakan sarana/wahana kerjasama perawat dengan klien, yang umumnya pada tahap awal peran perawat lebih besar dari pada peran klien, namun pada proses akhirnya diharapkan peran klien lebih besar daripada peran perawat, sehingga kemandirian klien dapat dicapai (Keliat, 1998).
Manfaat proses keperawatan dapat disimpulkan sebagai berikut :
 Manfaat bagi perawat :
-         Peningkatan otonomi, percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan.
-         Tersedianya pola pikir/kerja yang logis, ilmiah, sistematis dan terorganisasi.
-         Pendokumentasian dalam proses keperawatan memperlihatkan perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat.
-         Peningkatan kepuasan kerja.
-         Sarana/wahana desiminasi IPTEK keperawatan.
-         Pengembangan karier, melalui pola pikir penelitian
Manfaat bagi klien :
-         Asuhan yang diterima bermutu dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
-         Terhindar dari malpraktik.
 A.              Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan, yang terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien.
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Stuart dan Sundeen 1995, dikutip : Keliat, 1998). Cara lain dapat berfokus pada lima dimensi yaitu Fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Untuk dapat menjaring data dikembangkan formulir pengkajian dan petunjuk teknis pengkajian agar mudah dalam pengkajian.
Adapun isi pengkajian meliputi : Identitas klien, keluhan utama/alasan masuk, faktor predisposisi, aspek pisik/biologis, aspek psikologis, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan dan aspek medik.
Data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu data obyektif dan data subyektif. Selanjutnya perawat dapat menyimpulkan kebutuhan atau masalah klien, sebagai berikut :
1)   Tidak ada masalah tetapi ada kebutuhan :
-         Klien tidak memerlukan peningkatan kesehatan, klien hanya memerlukan pemeliharaan kesehatan dan memerlukan follow up secara periodik karena tidak ada masalah serta klien telah mempunyai pengetahuan untuk antisipasi masalah.
-         Klien memerlukan peningkatan kesehatan berupa prevensi dan promosi sebagai program antisipasi terhadap masalah
2)   Ada masalah dengan kemungkinan :
-         Risiko terjadi masalah karena sudah ada faktor yang dapat menimbulkan masalah.
-         Aktual terjadi masalah disertai data pendukung.
Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasid, 1993 dan INJF, 1996, dikutip : Keliat, 1998). Agar penentuan pohon masalah dapat dipahami dengan jelas, penting untuk diperhatikan tiga komponen yang terdapat pada pohon masalah yaitu : penyebab (causa) masalah utama (core problem) dan effect (akibat).
Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki klien. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan penyebab masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek/akibat dari masalah utama.
Kekerasan, resiko tinggi
Perubahan sensori persepsi : pendengaran
Isolasi sosial : menerik diri
Berduka : Disfungsional
Gangguan harga diri : Kronik
Akibat
Masalah utama :
Keluhan utama : Dengar suara tanpa stimulus
Penyebab
 Gambar : contoh pohon masalah aspek jiwa
B.               Diagnosa Keperawatan
Pengertian diagnosa keperawatan yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut :
-         Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian (Gabie, dikutip oleh Carpenito, 1993).
-         Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual atau potensial dan berdasarkan pendidikan dan pengalamannya perawat mampu mengatasinya, (Gordon, dikutip oleh Carpenito, 1983)
-         Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon aktual atau potensial dari individu, keluarga atau masyarakat terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan (Carpenito, 1995)
-         Diagnosa keperawatan adalah identifikasi atau penilaian terhadap respon klien baik aktual maupun potensial.
(Stuart dan Sundeen, 1995).
Diagnosa keperawatan dapat dirumuskan PE (Problem, Etiologi) keduanya ada hubungan sebab akibat dan rumusan PES (Problem, Etiologi, Simptom atau gejala sebagai data penunjang). Adapun tipe-tipe diagnosanya yaitu : Diagnosa aktual, diagnosa resiko tinggi, diagnosa mungkin dan masalah kolaboratif.

C.               Rencana Tindakan Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan rencana tindakan keperawatan. Tujuan umum memfokuskan kepada penyelesaian masalah (P) dari diagnosa tertentu, tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah dicapai. Tujuan khusus berfokus pada penyelesaian etiologi (E) dari diagnosa tertantu. Tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan klien yang perlu dicapai atau dimiliki klien. Umumnya kemampuan pada tujuan khusus dapat dibagi menjadi tiga aspek Stuart dan Sundeen, 1995) yaitu kemampuan kognitif yang diperlukan untuk menyelesaikan etiologi dari diagnosa keperawatan, kemampuan psikomotor yang diperlukan agar etiologi dapat selesai dan kemampuan afektif agar klien precaya akan kemampuan menyelesaikan masalah. Kata kerja yang digunakan untuk menuliskan tujuan ini harus berfokus pada perilaku.
Tabel kata kerja untuk tujuan
No
Aspek/Domain
Kata kerja yang dipakai
1

2

3
Kognitif

Afektif

Psikomotor
Jelaskan, hubungkan, uraikan, identifikasikan, bandingkan, diskusikan, membuat daftar, menyebutkan,
Menerima, mengakui, menyadari, menyiapkan, menilai, mengungkapkan, mempercayai.
Menempatkan, meniru, menyiapkan, mengulang, mengubah, mendemonstrasikan, menampilkan, memberi.

D.              Implementasi Tindakan Keperawatan
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu menvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya saat ini (here and now).
Perawat juga menilai diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, teknikel, sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan. Dinilai kembali apakah aman bagi klien. Lakukan kontrak dengan klien yang diharapkan. Dokumentasikan semua tindakan yang dikerjakan dan respon klien.

E.               Evaluasi Tindakan Keperawatan
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan kepada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respoons klien terhadap tindakan keperawatan yang dilaksanakan. Evaluasi dibagi menjadi dua yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan tujuan umum yang telah ditentukan.
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai pola pikir:
S              =              Respon subyektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
O              =              Respon obyektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
A              =                            Analisa ulang atas data subyektif dan obyektif atau muncul untuk menyimpulkan apakah masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada.
P              =              Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien.
Rencana tindak lanjut dapat berupa :
-         Rencana teruskan, jika masalah tidak berubah.
-         Rencana dimodifikasi jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi hasil belum memuaskan.
-         Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang ada serta diagnosa lama dibatalkan.
-         Rencana atau diagnosa selesai jika tujuan sudah tercapai dan yang diperlukan adalah memelihara dan mempertahankan kondisi yang baru.
Klien dan keluarga perlu dilibatkan dalam evaluasi agar dapat melihat perubahan dan berupaya mempertahankan dan memelihara. Pada evaluasi sangat diperlukan reinforcement untuk menguatkan perubahan yang positif. Klien dan keluarga juga dimotivasi untuk melakukan self reinforcement.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Pendokumentasian Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa

A.              Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah menarik atau menuntun kemampuan-kemampuan yang masih “tidur” menjadi aktif dan nyata. Tingkat aktif dan nyata yang timbul dari dan bergantung dari kesadaran-kesadaran yang mendukungnya pada tiap-tiap individu (Imam Barnadit, 1985)
Menurut Umar Tirtaraharja, dkk. Pendidikan formal, non formal dan informal adalah subsistem dari bidang pendidikan sebagai sistemnya. Sedangkan sistem pendidikan nasional Indonesia seperti dituangkan dapam Tap MPR No. II/MPR/1988 bertujuan untuk :
1)   Meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman, bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tanggung jawab, mandiri, cerdas dan trampil dan sehat jasmani rohani.
2)   Menumbuhkan dan memperdalam ; rasa cinta pada tanah air, semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial.
3)   Mengembangkan iklim belajar dan mengajar yang dapat menumbuhkan ; rasa percaya diri, sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif.
4)   Mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang dapat ; membangun diri sendiri dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

B.              Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari “Tahu” ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni : penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera penglihatan dan pendengaran (Notoatmojo, 1997).
Menurut Bloom pengetahuan dicakup dalam domain kognitif ada 6 tingkatan :
1)   Mengingat yaitu suatu kemampuan menulang materi yang telah dipelajari sebelumnya.
2)   Memahami yaitu suatu kemampuan menjelaskan, menginterpretasikan dan menyimpulkan tentang obyek yang diketahui secara benar.
3)   Aplikasi yaitu suatu kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil.
4)   Analisis yaitu suatu kemampuan menyebarkan materi/obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih berkaitan satu sama lain.
5)   Sintesis yaitu suatu kemampuan meletakkan, menghubungkan atau menyusun formulasi baru dari informasi yang sudah ada.
6)   Evaluasi yaitu suatu kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi/obyek.

C.              Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti mendorong/menggerakkan (Tri Rusmi Widayatun, 1999)
Motivasi artinya dorongan atau kehendak yang menyebabkan timbulnya semacan kekuatan agar seseorang itu berbuat atau bertingkah laku. Karena tingkah laku tersebut dilatar belakangi motiv maka disebut tingkah laku bermotivasi. Dorongan atau kehendak timbul karena ada kekurangan/kebutuhan yang menyebabkan keseimbangan dalam jiwa seseorang terganggu (Singgih Dirgagunarsa, 1983)
Motivasi adalah proses mengajak seseorang atau sekelompok orang, masing-masing dengan pribadi dan kebutuhan yang berbeda untuk mewujudkan sasaran/tujuan bersama sekaligus tujuan pribadi (Sri Pramodawardhani, 1996).
Tingkah laku bermotivasi dapat dirumuskan sebagai “Tingkah laku yang dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan dan diarahkan pada pencapaian tujuan serta kehendak terpuaskan”.

D.             Formulir Pengkajian Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa
Adalah alat untuk mendapatkan data lengkap klien di RS. Jiwa yang meliputi ; identitas klien, alasan masuk RS, faktor predisposisi, fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan, aspek medik, daftar masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan (Keliat, dkk, 1999). Formulir pengkajian proses keperawatan kesehatan jiwa tersebut diisi oleh perawat selama klien dirawat sampai persiapan pulang dari RS.

E.              Petunjuk teknis (Juknis) Pengisian Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Adalah pedoman yang dapat menuntun perawat dalam mengisi formulir pengkajian proses keperawatan kesehatan jiwa yang meliputi cara pengisian identitas klien, alasan masuk RS, faktor predisposisi, fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan, aspek medik, daftar masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan (Keliat, dkk, 1999).

F.              Prosedur Tetap (Protap) Kerja
Adalah standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa sehingga pelayanan keperawatan kesehatan jiwa dapat dipertanggungjawabkan/gugat secara profesional. Standar tersebut merupakan komponen utama dalam mengendalikan mutu keperawatan karena dapat dijadikan tolak ukur dalam mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah diberikan (Depkes RI, 1998).
Adapun standar/protap keperawatan kesehatan jiwa meliputi :
a.    Standar Askep kesehatan jiwa
Standar I                            teori
Standar II                            pengumpulan data
Standar III                            diagnosis
Standar IV                            perencanaan
Standar V                            tindakan
Standar V.a.              Tindakan psikoterapeutik
Standar V.b.              Tindakan pendidikan kesehatan
Standar V.c.              Tindakan kehidupan sehari-hari
Standar V.d.              Tindakan terapi somatik
Standar V.e.              Tindakan lingkungan terapeutik
Standar V.f.              Tindakan psikoterapi
Standar VI                            evaluasi

b.    Standar Askep kesehatan jelas pada gangguan perilaku seperti : halusinasi, panik, perilaku curiga, perilaku depresi, perilaku manarik diri, perilaku acuh, perilaku waria, perilaku bunuh diri dan harga diri rendah.

DLL yang disiapkan Jika Cheat tidak tampil

d3dx43.dll (Folder PB)
msvcp100.dll (Folder PB)
msvcr100.dll (Folder PB)
d3dx9_42.dll (system32)
msvcp100d.dll (system32)
msvcr100d.dll (system32)
Atau kalian ingin yang sudah dipaketkan,
[-] DLL Folder PB <<< Jadi simpan dll yang ada di .rar ke dalam Folder PB mu.
[-] DLL System32 <<< Jadi simpan dll yang ada di .rar ke
  • C:\Windows\System (Windows 95/98/Me)
  • C:\WINNT\System32 (Windows NT/2000)
  • C:\Windows\System32 (Windows XP, Vista, 7)
Jika kamu menggunakan Windows versi 64-bit , kamu harus tempatkan .dll nya di C:\Windows\SysWOW64\
Apabila kalian masih tidak mengerti silahkan tinggal komentar kalian di bawah ini.
Terima Kasih ^_^
Download Multy Injector KLik Disini (untuk lost saga)
Download Multy Injector + processes KLik disini (untuk Geme Ofline)

Daftar isi Blog

Widget By: [Akhmad Andryan]

Update status FB Via BB - I-pade

http://hadi.web.id/fb.html http://hadi.web.id/facebook.html