Tips-trick|Software|

Download Software Gratis

Translate

Tampilkan postingan dengan label Sosiologi dan politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi dan politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juli 2010

Pengertian Akhlak dan Tasawuf

Pengertian Akhlak:
·       Secara bahasa akhlak berasal dari kata  اخلق يخلق اخلاقا  artinya perangai, kebiasaan, watak, peradaban yang baik, agama. Kata akhlak sama dengan kata khuluq. Dasarnya adalah:

1. QS. Al- Qalam: 4: وانك لعلى خلق عظيم
2. QS. Asy-Syu’ara: 137: ان هذا الا خلق الاولين
3. Hadis :انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق

·       Menurut Istilah, akhlak adalah:
1.    Ibnu Miskawaih: sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melaksanakan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran danpertimbangan.
2.    Imam Ghazali: sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Ciri Perbuatan Akhlak:
1.    Tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya.
2.   Dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran.
3.   Timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.
4.   Dilakukan dengan sungguh-sungguh.
5.   Dilakukan dengan ikhlas.

Ruang lingkup Kajian Ilmu Akhlak:
@ Perbuatan-perbuatan manusia menurut ukuran baik dan buruk.
@ Objeknya adalah norma atau penilaian terhadap perbuatan tersebut.
@ Perbuatan tersebut baik perbuatan individu maupun kolektif.

Manfaat mempelajari Ilmu Akhlak:
1.    Menetapkan criteria perbuatan yang baik dan buruk.
2.   Membersihkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.
3.   Mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusia.
4.   Memberikan pedoman atau penerangan bagi manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik atau buruk.



Pengertian Tasawuf:
·       Secara bahasa tasawuf berarti:
- saf (baris), sufi (suci), sophos (Yunani: hikmah), suf (kain wol)
- sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan bersikap bijaksana.

·       Menurut Istilah:
1.    Upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah Swt.
2.    Kegiatan yang berkenaan dengan pembinaan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan.

Sumber Ajaran Tasawuf:
1.    Unsur Islam:
-         Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk: mencintai Tuhan (QS. Al-Maidah: 54), bertaubah dan mensucikan diri  (QS> At-Tahrim: 8), manusia selalu dalam pandangan Allah dimana saja (QS. Al-Baqarah: 110), Tuhan memberi cahaya kepada HambaNya (QS. An-Nur: 35), sabar dalam bertaqarrub kepada Allah (QS. Ali Imran: 3)
-         Hadis Nabi seperti tentang rahasia penciptaan alam adalah agar manusia mengenal penciptanya.
-         Praktek para sahabat seperti Abu Bakar Ash-shiddiq, Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Talib, Abu Zar Al-Ghiffari, Hasan Basri, dll.
2.    Unsur Non Islam:
a.    Nasrani: Cara kependetaan dalam hal latihan jiwa dan ibadah.
b.    Yunani: Unsur filsafat tentang masalah ketuhanan.
c.    Hindu/Budha: mujahadah, perpindahan roh dari satu badan ke badan yang lain.

Hubungan Akhlak dengan Tasawuf:

Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam pelaksanaannya mengatur hubungan horizontal antara sesame manusia, sedangkan tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertical antara manusia dengan Tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak.


Kuliah Kedua
SEJARAH PERKEMBANGAN AKHLAK TASAWUF

Sejarah Perkembangan Akhlak
Ditelusuri dari aspek kebangsaan, dapat dijelaskan sebagai berikut:
A.    Akhlak pada bangsa Yunani
·       Ditandai dengan munculnya Sophisticians, yaitu orang-orang yang bijaksana.
·       Dasar pemikirannya: rasionalistik, baik dan buruk didasarkan pada pertimbangan akal pikiran. Argumentasinya didasarkan pada filsafat tentang manusia (anthropocentris), terkait dengan kejiwaan manusia. Akhlak adalah sesuatu yang fitri yang ada dalam diri manusia.
·       Tokohnya:
-         Socrates (469-399 SM): membentuk pola hubungan antara manusia dengan dasar ilmu pengetahuan.
-         Plato (427-347 SM): mengemukakan teori contoh, yaitu apa yang terdapat pada lahiriyah sebenarnya telah ada contoh sebelumnya yang ada dalam bayangan dari yang tidak tampak (alam rohani atau alam ide). Teorinya ini terdapat dalam bukunya: Republik.
-         Aristoteles (394-322 SM): mengemukakan teori pertengahan; yang baik adalah yang berada di tengah-tengah. Tujuan akhir manusia adalah kebahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan menggunakan ilmu pengetahuan.

B.    Akhlak pada Agama Nasrani
·       Dasarnya adalah teocentris, Tuhan adalah sumber akhlak.
·       Tuhan yang menentukan dan membentuk patokan akhlak.
·       Menekankan pada aspek sufistik (dimensi batin).
·       Pendorong kebaikan adalah cinta dan iman kepada Tuhan berdasarkan kitab Taurat.

C.    Akhlak pada bangsa Romawi
·       Dibangun berdasarkan perpaduan antara ajaran Yunani (anthropocentris) dengan ajaran Nasrani (Teocentris).
·       Tokohnya: Abelard (1079-1142 M) dari Perancis, dan Thomas Aquinas (1226-1274 M) dari Italia.

D.   Akhlak pada Agama Islam
·       Titik pangkal pada wahyu Tuhan dan akal manusia.
·       Al-Qur’an memberi perhatian besar pada pembinaan akhlak.
·       Nabi menjadi role model dalam pembinaan akhlak dalam penyebaran Islam.
Sejarah Perkembangan Tasawuf

·       Masa Rasulullah belum ada istilah tasawuf.
·       Benih-benih tasawuf ditemukan pada perilaku dan sifat Nabi, seperti ketika berkhalwat di gua hira.
·       Kehidupan para sahabat juga mencerminkan kehidupan sebagai sufi seperti sikap zuhud dan qana’ah.
·       Masa Tabi’in: ada istilah Nussak, yaitu orang-orang yang menyediakan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Tokohnya Hasan Basri, yang benar-benar mempraktekkan tasawuf dengan memunculkan konsep khauf dan raja’.
·       Istilah tasawuf muncul pada abad ke 2 H. Kata sufi pertama kali digunakan oleh Abu Hasyim, seorang Zahid dari Syria (w. 780 M). Dia mendirikan Takya, semacam padepokan sufi yang pertama.
·       Tasawuf muncul sebagai respon terhadap praktek kehidupan para raja yang penuh dengan kemewahan. Para sufi memperbanyak zikir, zuhud, tadarus al-Qur’an, salat sunnah dan sebagainya. Tasawuf menjadi pengajian yang dipimpin oleh guru sufi.
·       Abad ke 3 H: muncul tasawuf yang menonjolkan pemikiran eksklusif (tasawuf falsafi) seperti Al-Hallaj dengan konsep hulul.
·       Abad ke 5 H: muncul Al-Ghazali, yang mendasarkan tasawuf hanya pada al-Qur’an dan hadis dan bertujuan asketisme, hidup sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral.
·       Abd ke 6 H berkembang tarekat-tarekat untuk melatih dan mendidik para murid seperti yang dilakukan oleh Sayid Ahmad Rifa’I (w. 570 H), dan Sayid Abdul Qadir Jaelani (w. 651 M).
·       Sejak abad ke 6 H muncul perpaduan antara tasawuf akhlaki dengan falsafi dengan tokoh seperti: Suhrawardi Al-Maqtul dan Ibn Arabi 


Kuliah Ketiga

ETIKA, MORAL, SUSILA, DAN AKHLAK

Etika
·       Secara bahasa etika berasal dari bahasa Yunani; ethos; yang berarti watak kesusilaan atau adat. Etika dalam kamus diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak.
·       Menurut istilah etika adalah ilmu yang menjelaskan baik dan buruk dan menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia (Ahmad Amin).
·       Konsep etika bersifat humanistis dan anthropocentris, karena didasarkan pada pemikiran manusia dan diarahkan pada perbuatan manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan yang dihasilkan oleh akal manusia.
·       Komponen yang terdapat dalam etika meliputi 4 hal:
1. Objek, yaitu perbuatan manusia.
2. Sumber, berasal dari pikiran atau filsafat.
3. Fungsi, sebagai penilai perbuatan manusia.
4. Sifat, berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.

Moral
·       Secara bahasa berasal dari kata mores (latin) yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus moral diartikan sebagai penentuan baik dan buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.
·       Istilah: moral merupakan istilah untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat, yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik, atau buruk.
·       Acuan moral adalah system nilai yang hidp dan diberlakukan dalam masyarakat.
·       Persamaan antara moral dan etika terletak pada objeknya yaitu: perbuatan manusia.
·       Perbedaan keduanya terletak pada tolok ukur penilaian perbuatan. Etika menggunakan akal sebagai tolok ukur, sedangkan moral menggunakan norma yang hidup dalam masyarakat.

Susila
·       Berasal dari bahasa Sanskerta, Su: artinya baik, dan susila: artinya prinsip, dasar, atau aturan.
·       Susila atau kesusilaan diartikan sebagai aturan hidup yang lebih baik, sopan, dan beradab.
·       Kesusilaan merupakan upaya membimbing, memasyarakatkan hidup yang sesuai dengan norma/nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.


PERSAMAAN ETIKA, MORAL, DAN AKHLAK

·       Persamaan ketiganya terletak pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan manusia untuk ditetapkan baik atau buruk.
·       Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam tiga hal:
1.    Objek: yaitu perbuatan manusia
2.    Ukuran: yaitu baik dan buruk
3.    Tujuan: membentuk kepribadian manusia

PERBEDAAN
1.    Sumber atau acuan:
-         Etika sumber acuannya adalah akal
-         Moral sumbernya norma atau adapt istiadat
-         Akhlak bersumber dari wahyu
2.    Sifat Pemikiran:
-         Etika bersifat filososfis
-         Moral bersifat empiris
-         Akhlak merupakan perpaduan antara wahyu dan akal
3.    Proses munculnya perbuatan:
-         Etika muncul ketika ad aide
-         Moral muncul karena pertimbangan suasana
-         Akhlak muncul secara spontan atau tanpa pertimbangan.


KONSEP BAIK DAN BURUK


Definisi Baik dan Buruk
·       Pengertian baik atau khair adalah:
1. sesuatu yang sudah mencapau kesempurnaan,
2. sesuatu yang memiliki nilai kebenaran/nilai yang diharapkan,
3. sesuatu yang berhubungan dengan luhur, bermartabat, menyenangkan, dan disukai manusia.
·       Buruk atau syarr, memiliki pengertian kebalikan dari baik.
·       Pengertian baik dan buruk di atas bersifat subjektif, relative, tergantung individu yang menilainya.

Penentuan Baik dan Buruk
1.    Berdasarkan adat istiadat masyarakat (aliran sosialisme).
2.    Berdasarkan akal manusia (hedonisme)
3.    Berdasarkan intuisi (humanisme)
4.    Berdasarkan kegunaan (utilitarianisme)
5.    Berdasarkan agama (religiousisme)

Konsep Baik dalam ajaran Islam
1.    Hasanah; sesuatu yang disukai atau dipandang baik (QS. 16: 125, 28: 84)
2.    Tayyibah; sesuatu yang memberikan kelezatan kepada panca indera dan jiwa (QS. 2: 57).
3.    Khair; sesuatu yang baik menurut umat manusia (QS. 2: 158).
4.    Mahmudah; sesuatu yang utama akibat melaksanakan sesuatu yang disukai Allah (QS. 17: 79).
5.    Karimah; perbuatan terpuji yang ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari (QS. 17: 23).
6.    Birr; upaya memperbanyak perbuatan baik (QS. 2: 177).


KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB


Makna Kebebasan:
1.    Kemampuan untuk menentukan diri sendiri, tidak dibatasi oleh orang lain.
2.    Kemampuan untuk melakukan sesuatu sesuai yang dimilikinya dan tujuan yang diinginkannya.
3.    Kemampuan memilih kemungkinan-kemungkinan yang tersedia baginya.
4.    tidak dipaksa/terikat untuk membuat sesuatu yang tidak akan dipilihnya, berbuat dengan leluasa.

Kebebasan manusia: apakah manusia memiliki kebebasan atau tidak?
1.    Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan kemauannya (Qadariyah/Mu’tazilah).
2.    Kebebasan manusia dibatasi oleh Tuhan (Jabariyah/Asy’ariyah).

Dasar Kebebasan: QS. 3: 164, 18: 29, 41: 40.

Macam Kebebasan:
1.    Kebebasan jasmani (menggerakkan anggota tubuh).
2.    Kebebasan ruhani (berkehendak)
3.    Kebebasan moral.

Tanggung Jawab
·       Kesediaan dasariah untuk melaksanaka apa yang menjadi kewajiban.
·       Kewajiban untuk melaksanakan segala sesuatu yang bertujuan untuk mempertahankan keadilan, keamanan, dan kemakmuran.
·       Menerima pembebanan sebagai akibat perbuatan sendiri.

Eksistensi Tanggung jawab
·       berhubungan dengan perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran.
·       Tanggung jawab berhubungan dengan kebebasan berbuat , dimana kebebasan berbuat harus dapat dipertanggungjawabkan.
·       Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab meliputi:
1.    kemampuan untuk menentukan diri sendiri
2.    kemampuan untuk bertanggungjawab.
3.    kedewasaan manusia


Kuliah Keempat
PEMBENTUKAN AKHLAK

Pandangan tentang eksistensi akhlak
-         Terdapat dua aliran tentang akhlak manusia, apakah akhlak itu dibentuk atau bawaan sejak lahir.
1.    Akhlak adalah insting (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir. Jadi akhlak adalah pembawaan manusia, yaitu kecenderungan kepada fitrah yang ada pada dirinya. Akhlak tumbuh dengan sendirinya tanpa dibentuk atau diusahakan (gairu muktasabah).
2.    Akhlak adalah hasil pendidikan, latihan atau pembinaan yang sungguh-sungguh. Akhlak adalah hasil usaha (muktasabah).

Metode Pembentukan Akhlak
·       Dalam Islam pembentukan akhlak dilakukan secara integrated, melalui rukun iman dan rukun Islam. Ibadah dalam Islam menjadi sarana pembinaan akhlak.
·       Cara lain adalah melalui: pembiasaan, keteladanan, dan instropeksi.

Faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Akhlak
1.    Aliran Nativisme: potensi batin dangat dominant dalam pembinaan akhlak. Potensi tersebut adalah pembawaan yang berupa kecenderungan, bakat, minat, akal, dan lain-ain.
2.    Aliran Empiris: lingkungan social, termasuk pendidikan merupakan factor penting dalam pembinaan akhlak.
3.    Aliran Konvergensi: pembinaan akhlak dipengaruhi oleh factor internal (pembawaan) dan factor eksternal (lingkungan).
4.    Islam: sesuai dengan aliran konvergensi (QS. An-Nahl: 78, dan hadis Nabi: kullu mauludin…).

Petunjuk Pembinaan Akhlak dalam Islam:
1.    Memilih pasangan hidup yang beragama
2.   Banyak beribadah saat hamil
3.   Mengazani saat kelahiran
4.   Memberi makanan yang halal dan bergizi
5.   Mencukur rambut dan khitan sebagai tanda kesucian
6.   Aqiqah, isyarat menerima kehadiran sang anak
7.   Memberi nama yang baik
8.   Mengajari membaca Al-qur’an
9.   Mengajari salat sejak umur tujuh tahun
download file type : doc klik disini

DIASPORA ORANG BUTON DALAM PROSES INTEGRASI BANGSA: SUATU KAJIAN SEJARAH MIGRASI DI INDONESIA

Pengantar
Karya tulis ini merupakan hasil penelitian tahap pertama, yang merupakan laporan kemajuan ini dibiayai oleh Dana Hibah Penelitian Strategis Nasional Tahun 2009. Tahap penelitian yang sudah  dilakukan adalah pengumpulan bahan dengan melakukan penelitian pustaka dan dua penelitian lapangan yang dilakukan oleh dua orang anggota peneliti di Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Maluku. Meskipun masih bersifat kerangka umum, sebagaimana terlihat dalam laporan ini, temuan data di lapangan dapat mengungkap atau setidaknya memetakan diaspora orang Buton yang menjadi pokok kajian dalam jaringan persebaran dan dinamika masyarakat dalam konteks integrasi bangsa di dua wilayah: Maluku Utara dan Maluku.  

I. Pendahuluan

Tidak ada satupun negara-bangsa di dunia yang memiliki kompleksitas keragaman masyarakat dan kebudayaan seperti Indonesia. Republik Indonesia yang memiliki wilayah sekitar 5.000.000 kilometer persegi, didiami oleh penduduk yang berasal dari kurang lebih 500 sukubangsa dengan ratusan bahasa. Selain karakteristik tersebut, Indonesia juga merupakan satu-satunya negara kepulauan (archipelagic state) dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Akan tetapi perlu diketahui bahwa sebagian besar pantai negara Kanada berupa es yang beku. Sedangkan sebagai konsekuensi keberadaannya di katulistiwa sudah tentu  pantai Indonesia dapat dilayari sepanjang musim.
              Keanekaragaman suku bangsa ini memiliki potensi yang sangat besar bagi pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan negara yang diproklamasikan pada tahun 1945. Akan tetapi karakteristik itu juga merupakan potensi ancaman bagi integrasi bangsa. Potensi konflik yang dapat muncul dari perbedaan kepentingan apalagi dilandasi oleh faktor politik golongan akan mengancam integrasi bangsa dan sosial. Tanpa pengelolaan  yang tepat, keragaman budaya akan menjadi potensi yang destruktif sebagai faktor  meledaknya konflik etnis, seperti yang sering terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Untuk itulah diperlukan suatu penelitian yang cukup mendalam untuk  memahami dan menemukan faktor integratif yang sudah berlangsung selama berabad-abad yang lalu.
Interaksi lintas budaya dalam perspektif sejarah sesungguhnya telah lama berlangsung. Salah satu faktor utama sarana penghubung dalam interaksi antar masyarakat di kepulauan ini adalah aktivitas pelayaran dan perdagangan di Nusantara. Dalam konteks ini tidak dapat dipungkiri bahwa di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di masyarakat dan kota-kota pantai atau pelabuhan telah terjadi proses komunikasi lintas budaya di antara warga suku bangsa yang hidup dari pelayaran dan perdagangan maritim di Indonesia sejak masa lalu.
              Masyarakat Bugis, Makasar, Melayu, dan Jawa sudah dikenal di kalangan warga masyarakat Indonesia yang telah melakukan proses komunikasi lintas budaya di banyak wilayah di Indonesia. Kehadiran kampung dan permukiman Bugis, Makasar, Melayu, dan kampung Jawa yang terbentuk di banyak kota pelabuhan di Indonesia menunjukkan berlangsungnya interaksi secara damai dengan masyarakat lokal sehingga dapat menciptakan harmoni sosial, di mana mereka berada.
Selain sukubangsa yang disebut di atas, sesungguhnya terdapat orang Buton yang juga berperan dalam pembentukan masyarakat terutama yang berkarakter maritim di kepulauan Indonesia. Akan tetapi  peranan orang Buton kurang sekali mendapat perhatian dibandingkan suku-suku yang sudah disebut di atas.  Orang Buton sudah lama berinteraksi secara intensif dan integratif dengan masyarakat di pulau-pulau kecil dan besar terutama di wilayah Indonesia Timur. Untuk itulah pentingnya suatu penelitian yang menggambarkan  diaspora orang Buton yang berpotensi mengintegrasikan masyarakat Indonesia terutama di wilayah Indonesia Timur. Dilihat dari sudut proses pembentukan keindonesiaan,  para pedagang, pelaut, para migran dari daerah di kepulauan telah memainkan peranan  secara kultural dan ekonomi, dalam proses integrasi awal Indonesia jauh sebelum negara Indonesia berdiri dengan Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, hingga terwujud keutuhan wilayah dengan kembalinya Irian Barat pada tahun 1963.
Kesetaraan Buton dengan Bugis dan Makassar dalam konteks suku bangsa yang memiliki karakteristik sebagai bangsa bahari, agaknya menarik dan penting untuk dipaparkan dalam perkembangan masyarakat yang bertransformasi dari masa lampau ke masa kini. Ketiga etnik tersebut memiliki persamaan karakteristik sebagai perantau dan komunitas yang berkehidupan dari sektor kelautan. Akan tetapi perbedaan di antara ketiganya tampak pada sejarah politik, ketika terwujud ke dalam tiga bentuk kerajaan: Gowa-Tallo, Bone dan Buton. Interaksi ketiganya berada dalam konteks persaingan politik. Gowa-Tallo setelah berhasil menguasai kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya, menjadi kerajaan paling kuat di Sulawesi selatan. Saingannya, Bone dan beberapa kerajaan kecil yang masih bebas semakin terdesak oleh ekspansi Gowa. Kebesaran Gowa didukung pelabuhan Sombaopu yang semakin ramai setelah Malaka jatuh ke tangan Malaka pada tahun 1511.
VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie), sebuah kongsi dagang Belanda yang didirikan pada tahun 1602 berambisi memperluas aktivitas perdagangan monopolistik rempah ke Maluku. Kendala terbesar VOC untuk bergerak ke Maluku terhadang oleh Gowa, yang telah lebih dahulu menguasai jalur perdagangan ini dan, yang ingin menjadikan perdagangan rempah berpusat di Makassar. Melalui jalur pelayaran menuju Maluku inilah, VOC berkepentingan dengan kerajaan Buton.  Letak pusat kerajaan Buton, Baubau adalah kota pelabuhan persinggahan. Posisi Buton yang relatif lemah akibat tekanan Ternate dari bagian timur dan Gowa dari bagian barat, mendorongnya bersekutu dengan VOC. Perjanjian kerja sama pertama Buton dan VOC ditandatangani pada tahun 1613.
Ketegangan antara Gowa dan VOC  berakibat perang, yang melibatkan Bone dan Buton. Dinamika sejarah yang agak lamban dalam abad ke-16 menjadi cepat berubah dengan ketegangan antara Gowa dan VOC yang berdampak pada konstelasi hubungan antar kerajaan di wilayah tersebut. Dalam konteks itu VOC menjadi faktor terwujudnya pola sekutu dan seteru antarkerajaan di Nusantara. Untuk menghadapi ekspansi Gowa, Bone memilih VOC sebagai sekutu. Dalam menghadapi Gowa yang kuat, VOC jelas berkepentingan dengan persekutuan ini. Berkat bantuan pasukan Raja Bone, Arung Palakka, VOC berhasil menghancurkan benteng Sombaopu. Dengan kekalahan itu, Gowa dipaksa menandatangani perjanjian di Bungaya pada tahun 1667.
              Kesultanan Buton, yang dalam tradisi lokal diperkirakan berdiri dalam abad ke-15, mencakupi wilayah yang sekarang kurang lebih seluas Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebagian besar wilayah kesultanan yang didirikan oleh pendatang dari Johor ini, merupakan pulau-pulau di seberang tenggara dan termasuk dua daerah di semenanjung Sulawesi. Dua pulau terbesar adalah Buton, pusat kesultanan dan Muna. Sedangkan pulau kecil adalah Kabaena, Kepulauan Tukang Besi dan lainnya. Berada di jalur pelayaran yang strategis ke Maluku,  menjadikan Buton diperebutkan dan ditarik ke pihak-pihak kekuatan luar yang saling bersaing. Selain itu, potensi yang diincar oleh pihak luar adalah sumber tenaga kerja dalam aktivitas pelayaran dan ketrampilan pembuatan perahu serta tenaga budak yang diperdagangkan.
              Dengan posisi dan potensi tersebut di atas, Buton masuk ke dalam konstelasi ketegangan dan perang yang merugikannya.  Akan tetapi Buton selalu berusaha memanfaatkan kesempatan yang menguntungkan bagi dirinya. Dinamika dalam kurun masa abad-abad penuh gejolak menunjukkan mobilitas penduduk yang tinggi di wilayah itu. Diaspora orang Buton berlangsung di dalam konteks perubahan struktur politik, sosial, dan ekonomi khususnya di kepulauan bagian timur. Suatu hal yang menarik bahwa diaspora orang Buton memperlihatkan potensi yang merupakan unsur perekat dalam masyarakat majemuk di kepulauan Indonesia. Hal ini menarik dan penting dikaji, pertama, dalam hal ini mengenai topik kependudukan belum banyak dilakukan dalam perspektif sejarah; kedua, kajian sejarah mengenai migrasi atau diaspora penting artinya untuk mengungkap proses pembentukan sebuah bangsa, seperti Indonesia yang berciri keragaman etnik dan kebudayaan. Dengan demikian diaspora orang Buton merupakan tema yang sangat beralasan untuk dijadikan obyek penelitian.

PERUBAHAN PARADIGMA ILMU SOSIATRI Mengenalkan Ilmu Sosiatri

Kedinamisan merupakan salah satu ciri kehidupan masyarakat manusia. Kehidupan masyarakat manusia yang dinamis ditandai dengan perubahan-perubahan sosial dan budaya yang secara jelas dapat terlihat melalui berbagai benda hasil budaya dan aktivitas-aktivitas kehidupannya. Perubahan sosial budaya yang dialami manusia dapat dijelaskan sebagai proses penyesuaian hidup manusia dengan konstelasi yang ada, seperti yang ditegaskan oleh Gillin dan Gillin (Soekanto, 1994), perubahan sosial dapat dipandang sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, yang disebabkan baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebutuhan materil, komposisi penduduk, ideologi, maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penumuan baru dalam masyarakat tersebut.

Perubahan yang dialami manusia bukanlah suatu penyimpangan, karena pandangan tersebut adalah suatu mitos yang perlu dihilangkan dari pandangan mengenai perubahan (Lauer, 1993). Perubahan

Alumni Fisipol Univ. Tanjungpura Tahun 1998 dan Staf Pengajar STMIK Pontianak Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 2 berdasarkan arahnya dapat berupa perubahan yang progresif (kemajuan) dan dapat juga berupa perubahan yang regresif (kemunduran). Perubahan yang terjadi juga hendaknya menghindari mitos mengenai keseragaman arah gerak dari setiap struktur sosial yang ada, karena dalam setiap struktur sosial terdapat identitas khusus yang mewarnai perubahan yang terjadi, yaitu perbedaan nilai-nilai sosial, sikap dan pola tingkah laku kelompok masyarakat (Soemardjan, 1974).Oleh sebab itu, perubahan yang terjadi dalam masyarakat, senantiasa dipengaruhi oleh faktor-faktor, antara lain: perubahan lingkungan fisik, perubahan penduduk, isolasi dan kontak, sikap dan nilai-nilai, struktur sosial, kebutuhan yang dianggap perlu, dan dasar budaya (Horton dan Hunt, 1991).

Selain faktor-faktor tersebut, yang paling penting adalah dinamisator di dalam kehidupan itu sendiri, yaitu kelompok dalam masyarakat yang menjadi penggerak perubahan (agent of social change). Peran dan kerja dari para penggerak perubahan tersebut juga turut menentukan dan mempengaruhi perubahan yang terjadi. Para penggerak perubahan dapat terdiri dari unsur pemerintah, lembaga nonpemerintah, dan kalangan terdidik (mahasiswa dan ilmuwan). Perkembangan Sosiatri dalam Perspektif Perubahan Ilmu-ilmu Alam dan Sosial Pembahasan perkembangan ilmu sosiatri dalam tulisan ini akan berada dalam frame kerangka konsep perubahan tersebut.

Setiap perubahan sosial selalu mencakup pula perubahan budaya, dan perubahan budaya akanmencakup juga perubahan sosial. Sosiatri merupakan ilmu sosial terapan (applied science), yang dalam pengembangannya mengandalkan realita yang terjadi di dalam masyarakat, berkaitan dengan masalah sosial yang perlu diselesaikan (pandangan awal perkembangan) dan penyesuaian kebutuhan dengan sumber daya yang ada (pandangan hasil perkembangan). Realita dalam masyarakat yang terus mengalami perubahan memiliki dimensi perubahan sosial. Sementara itu, secara keilmuan, pengembangan kajian, penelitian, dan teori-teori baru juga dituntut dari sosiatri, baik melalui hasil kerja lapangan (penelitian dan proyek sosiatri), maupun melalui berbagai kegiatan seminar dan diskusi.

Aktivitas ilmiah mempermudah perubahan budaya. Inovasi baru di bidang keilmuan memperoleh ruang dan kesempatan formal. Kajian perubahan dalam sosiatri dapat dipadukan dengan konsep paradigma dari Khun (Ritzer, 1991). Konsep paradigma dari Khun sealiran dengan teori-teori perubahan. Perubahan ilmu pengetahuan menurut Khun terjadi secara revolusioner. Akumulasi hanyalah salah satu segmen di dalam proses revolusi untuk mencapai kemajuan ilmu. Revolusi ilmu menjalani proses sebagai berikut: Paradigma I "³ Ilmu Normal "³ Anomali "³ Krisis "³ Revolusi "³ Paradigma II Pada tahap ilmu normal, proses akumulasi ilmu terjadi, namun perkembangan ilmu tidak hanya terletak pada tahap ilmu normal, melainkan meliputi keseluruhan proses tersebut (Ritzer, 2003). Paradigma merupakan suatu pandangan mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan dalam suatu cabang ilmu. Jadi paradigma merupakan suatru bingkai atau frame yang membuat ilmuwan terfokus pada apa yang menjadi perhatiannya berkaitan dengan suatu kondisi atau objek.

Paradigma dalam ilmu pengetahuan mencakup teori, pokok permasalahan metode dan instrumen, termasuk eksemplar model dari suatu objek ilmu. Jika dikaitkan dengan sejarah perkembangan sosiatri yang terinspirasi oleh analogi psikologi ¡V psikiatri dan sosiologi ¡V sosiatri, jelas sosiatri memiliki kedekatan dengan sosiologi. Objek material sosiatri sama dengan sosiologi, yang membedakan keduanya adalah objek formal. Objek formal sosiatri memang memerlukan dukungan dari beberapa paradigma sosiologi, sebab sosiologi memiliki multiparadigma. Namun, objek tersebut juga memerlukan dukungan disiplin ilmu sosial lain agar kerja Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 3 sosiatri menjadi semakin baik, mengingat dimensi sosial-masyarakat sangat luas. Sosiatri memadukan berbagai paradigma ilmu sosial, sehingga penyelesian masalah di dalam sosiatri merupakan suatu pendekatan multiparadigma terintegrasi.

Perubahan paradigma dalam ilmu sosial yang dijadikan sebagai acuan kerja dan pelaksanaan proyek sosiatri jelas akan turut mengakibatkan perubahan dalam paradigma sosiatri sebagai ilmu. Perubahan paradigma dalam suatu ilmu pengetahuan memang bukan suatu hal baru. Kondisi ini menunjukkan proses revolusi ilmu dari Khun merupakan sesuatu yang realiabel. Di bidang ilmu alam akan dengan dengan mudah ditemukan perubahan paradigma mendasar yang selanjutnya mempengaruhi kehidupan manusia. Perubahan teori geosentris menjadi heliosentris merupakan suatu revolusi dalam kosmologi yang dampaknya sangat besar. Salah satu efek sosialnya adalah perkembangan penjelajahan samudera yang menimbulkan kolonialisme dan imperialisme bangsabangsa Eropa terhadap bangsa noneropa. Perubahan pemikiran mengenai abiogenesis menjadi biogenesis merupakan perubahan besar dalam biologi. Efek positifnya adalah memungkinkan perkembangan ilmu budidaya dan kajian mikrobiologi. Efek sosialnya adalah kemampuan menjawab kekhawatiran Malthus mengenai bencana kemiskinan dan kelaparan akibat ledakan jumlah penduduk. Di bidang ilmu sosial, dapat terlihat perubahan paradigma sosiologi dan antropologi. Pada awal perkembangannya, sosiologi difokuskan pada struktur sosial dan dinamika sosial masyarakat Eropa pascarevolusi sosial dan Revolusi Industri. Kedua revolusi tersebut memberikan dampak yang besar terhadap masyarakat dunia. Sosiologi mulai memperluas kajiannya pada struktur dan dinamika sosial masyarakat di berbagai belahan dunia ¡V tidak hanya terbatas pada masyarakat Eropa saja.

Antropologi yang pada awalnya memilih objek masyarakat terasing mulai melakukan reinterpretasi kajian, sehingga mencakup kehidupan suku-suku bangsa di manapun, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Perubahan paradigma dalam ilmu pengetahuan mencakup seluruh aspek paradigma. Dari beberapa kasus perubahan paradigma ilmu pengetahuan yang telah dipaparkan, arah yang dicapai memang diutamakan berupa perkembangan. Kemapanan dan munculnya spesialisasi ilmu menjadi harapan dari perubahan tersebut. Perubahan tersebut berhubungan timbal balik dengan perubahan kehidupan manusia yang menjadi pendukungnya, termasuk terutama perkembangan di kalangan ilmuwan. Fase-fase Perubahan Paradigma Ilmu Sosiatri Sosiatri sebagai ilmu pengetahuan mulai dikembangkan di Universitas Gadjahmada sejak tahun 1957. Banyak perubahan dalam masyarakat yang telah terjadi dari tahun tersebut sampai saat ini. Selama 50 tahun, tentunya telah dihasilkan sejumlah besar sosiatris. Sosiatris dalam menjalankan pekerjaannya tentu akan menghadapi perubahan masyarakat yang memungkinkan mereka menghadirkan ide-ide baru yang lebih inovatif. Ide-ide yang dihasilkan sekaligus mengkonstruksi perkembangan bagi sosiatri. Koentjaraningrat (1993) pernah membuat periodisasi perkembangan antropologi berdasarkan pada kajian terhadap pengembangan ilmu tersebut di setiap periode. Dalam histroigrafi juga terdapat cara pengelompokkan karakteristik suatu periode historis dengan sistem tiga periode (three age system). Dengan demikian jika dilakukan analogi pada dua proses keilmuan tersebut, maka perkembangan sosiatri juga dapat dikelompokkan ke dalam fase-fase atau tahap perkembangan. Pengelompokkan selanjutnya dilakukan dengan menggunakan sistem tiga periode. Alasannya jelas bahwa perkembangan masyarakat dan kajian ilmu sosial sering dipengaruhi oleh sistem pemerintahan yang berlangsung.

Dari perkembangannya, sampai saat ini, sosiatri menjalani tiga periode sistem pemerintahan yang berbeda, yaitu Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 4 Periodisasi perkembangan sosiatri yang akan dijadikan landasan untuk melihat perubahan paradigmanya dikelompokkan menjadi: Fase Awal Perkembangan (1957 ¡V 1966); Fase Pemantapan Perkembangan (1967 ¡V 1997); dan Fase Perkembangan (1998 ¡V sekarang). Setiap fase perkembangan memiliki karakteristik yang dapat dilihat dari aspek objek ilmu (pokok permasalahan), teori-teori, titik perhatian, metode dan instrumen, pendekatan/eksemplar model ilmu, dan peran sosiatris.

Pada fase awal perkembangan, sosiatri masih merupakan suatu disiplin ilmu yang baru berkembang, terbatas pada Universitas Gadjahmada sebagai salah satu cabang ilmu sosial yang khusus dan secara langsung bersasaran pada keadaan dalam masyarakat. Landasan dirumuskannya spesialisasi sosiatri pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjahmada pada saat itu adalah kebutuhan bangsa akan adanya tenaga-tenaga ahli yang mampu membantu melakukan penyembuhan (rehabilitasi) kondisi masyarakat yang mengalami banyak masalah sosial akibat penjajahan. Objek formal sosiatri pada fase awal perkembangan ialah masalah-masalah sosial patologis akibat penjajahan (Wirjosumarto, 1978). Masalah tersebut antara lain: kemiskinan, kebodohan, kualitas kesehatan yang buruk, ledakan jumlah penduduk, dan adanya cacat sosial dan cacat fisik. Pengembangan sosiatri yang dilakukan secara khusus menyebabkan disiplin ini kurang dikenal. Terlebih lagi adanya dominasi sosiologi yang begitu kuat pada saat bersamaan. Kedekatan objek kajian sosiologi dengan sosiatri membuat ilmu ini dipandang hanya satu cabang sosiologi.

Bahkan, ada juga yang mengangap ilmu ini sengaja diadakan untuk sekedar meramaikan perkembangan ilmu pengetahuan. Kekeliruan ini disebabkan karena ilmuwan tersebut tidak memandang sosiatri sebagai suatu kepaduan dari aspek-aspeknya, melainkan hanya memandang aspek sosiatri secara spatial. Pada awal perkembangannya, sesuai dengan masalah yang dihadapi pada objeknya, sosiatri banyak mengandalkan ilmu-ilmu sosial yang telah mapan, seperti sosiologi, patologi sosial, dan pekerjaan sosial. Teori-teori dari disiplin tersebut digunakan sosiatris untuk mendukung kerjanya. Metode atau instrumen yang diterapkan memiliki kedekatan dengan ilmu yang menjadi acuan. Metode tersebut antara lain social case work, sociai analysis, dan treatment behaviour. Pendekatan yang dilakukan di dalam melaksanakan kerja sosiatris adalah pendekatan individual dengan penekanan pada pekerjaan sosial.

Pada fase pemantapan terjadi perubahan cukup besar dalam paradigma sosiatri. Fase ini ditandai dengan pemantapan struktur ilmu sosiatri dengan dibukanya jurusan sosiatri pada beberapa universitas di Jawa dan di luar Jawa. Universitas tersebut antara lain: Universitas Tanjungpura di Pontianak, Universitas Mulawarman di Samarinda, Universitas Sam Ratulangi di Manado, Universitas Darul Ulum di Jombang, Universitas Cokroaminoto di Yogyakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Iskandarmuda di Aceh, dan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik APMD di Yogyakarta (Seotomo, 1987).

Pembukaan jurusan sosiatri di beberapa universitas di luar Universitas Gadjahmada merupakan pengakuan formal yang memperkuat posisi keilmuan sosiatri di dalam negeri. Seiring dengan kondisi tersebut, masyarakat Indonesia juga mengalami perubahan besar. Beberapa masalah pada awal kemerdekaan dapat diatasi, namun muncul masalah baru yang merupakan ekses dari pembangunan. Ekses pembangunan menuntut perubahan objek sosiatri menjadi masalah dan hambatan yang timbul dari usaha pembangunan masayarakat yang perlu diantisipasi, diatasi, dan diperbaiki untuk melancarkan pembangunan berkelanjutan. Masalah-masalah khusus dari objek formal tersebut terdiri dari: kesenjangan antara kelompok masyarakat miskin dan kelompok masyarakat kaya, keberhasilan Program Keluarga Berencana yang menghadirkan fenomena berkurangnya jumlah Siswa Sekolah Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 5 Dasar, mutu pendidikan yang tidak merata antara desa dan kota, timbulnya konglomerasi di bidang ekonomi, berbagai akibat negatif pengabaian sektor pertanian, dan hambatan pengembangan mentalitas wirausaha di kalangan pengusaha kecil dan menengah.

Teori, metode kerja keilmuan, dan model keilmuan sosiatri mengalami perluasan dan perkembangan pesat. Teori-teori yang dikembangkan dalam mengkaji sosiatri diusahakan mencakup perpaduan yang tepat dari berbagai disiplin ilmu yang sesuai. Kondisi tersebut jelas terlihat dari titik perhatian sosiatri yang mengarah pada pembangunan masyarakat (community development) dan pada pendekatan komunitas. Dalam kerjanya, sosiatris mulai mengembangkan perannya di berbagai bidang, antara lain sebagai katalisator, promotor, animator, administrator, inovator, motivator, guru dan orang tua, komunikator, dinamisator, dan stabilisator (Sugiyanto, 2002). Sosiatri pada fase kedua memperkuat posisi sebagai disiplin ilmu sosial yang memiliki spesifikasi khusus dan khas, melalui identifikasi aspekaspek keilmuannya yang semakin jelas dan semakin memperoleh pengakuan dari kalangan akademis. Fase terkini dari perkembangan sosiatri ditandai dengan adanya kesempatan yang cukup mantap bagi sosiatris untuk mengembangan secara mandiri spesialisasi dan kompetensi keilmuannya dalam pembangunan masyarakat.

Pengakuan sosiatris dikukuhkan dengan penerimaannya dalam membantu berbagai proyek pengelolaan pembangunan. Para sosiatris telah berkarya di Departemen Sosial, departemen Transmigrasi, Departemen Dalam Negeri, Departemen Koperasi, dan departemen Penerangan (Sugiyanto, 2002). Selain itu, banyak pula sosiatris yang telah diikutsertakan dalam proyek-proyek pengembangan masyarakat oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat (non government organization/NGO) dari dalam maupun luar negeri. Sosiatris juga telah bekerja di bidang jurnalistik dan terlibat sebagai pendidik. Kedudukan dan peran sosiatris di dalam lingkup ilmuwan jelas memperoleh kesempatan luas pada fase ini. Objek sosiatri pada fase ketiga diarahkan pada penyelarasan kebutuhan manusia dengan sumber daya. Kerangka model kajian sosiatri meliputi: mentalitas yang lemaha pada masyarakat untuk mandiri dalam pembangunan komunitas, efek negatif kemajuan pendidikan, habis dan semakin menipisnya sumber daya tertentu, distribusi-alokasi sumber daya manusia yang tidak merata di nusantara, timbulnya berbagai kejahatan modern, dan berbagai masalah akibat pengungsian dan pemukiman kumuh di perkotaan. Fokus ilmu sosiatri pada fase ini diarahkan pada pembangunan dan pengembangan mental warga masyarakat.

Pendekatan yang dilakukan memadukan pendekatan komunitas dengan pendekatan individual. Sosiatris tidak lagi hanya mengandalkan pada ilmu sosial lain untuk menunjang kerja profesionalnya. Berbagai hasil kerja yang telah terdokumentasi dengan baik pada fase sebelumnya menjadi akar yang kuat untuk membangun metode dan aspek teoritis ilmu ini. Salah satu pendekatan penelitian yang memungkinkan perkembangan tersebut adalah grounded research . Pemantapan sosiatris pada fase ini dilakukan baik di luar maupun di dalam kampus. Pada kalangan kampus, usaha pembinaan mahasiswa melalui kegiatan praktikum dan penelitian skripsi, termasuk pengembangan penelitian-pengabdian masyarakat di kalangan dosen merupakan cara utama pemantapan kedudukan sosiatri sebagai cabangilmu sosial. Usaha seminar, diskusi, termasuk pengembangan penulisan kajian tentang sosiatri juga merupakan jalur yang terus diusahakan dalam pengembangan sosiatri.

Cara kerja sosiatris yang khas di berbagai lingkup masyarakat merupakan jalur pemantapan sosiatri yang paling efektif di luar kampus. Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 6 Penutup Memahami hakekat, keberadaan, ruang lingkup, profesi, dan bidang kerja sosiatri memang tidak mudah. Kendala-kendala terhadap hal tersebut dapat bersumber dari dalam kalangan sosiatri sendiri dan juga berasal dari kalangan luar. Keraguan di sebagian kalangan ilmuwan sosial terhadap ilmu sosiatri sebagai cabang ilmu sosial merupakan hambatan perkembangan yang paling utama. Dominasi Barat terhadap perkembangan ilmu sering menyebabkan ilmu yang berkembang di luar Eropa bukan merupakan sebuah ilmu yang sah. Kondisi ini terjadi pada sosiatri yang kemunculannya di Indonesia. Sosiatris dan kalangan yang memperhatikan sosiatri kurang melakukan promosi dan mengenalkan disiplin ini kepada publik. Sebenarnya promosi ilmiah dapat dilakukan terutama dengan menulis publikasi pada media massa dan buku teks.

Visi dan misi sosiatris yang juga belum menyatu (baca: belum kompak). Sebagian sosiatris masih menyangsikan keberadaan diri dan ilmu yang dipelajarinya sebagai cabangilmu sosial. Jika kendala-kendala tersebut dapat diatasi, maka jelas sosiatri dapat dengan mantap berkembang menjadi cabang ilmu sosial yang bermanfaat dalam pembangunan masyarakat Indonesia.

DLL yang disiapkan Jika Cheat tidak tampil

d3dx43.dll (Folder PB)
msvcp100.dll (Folder PB)
msvcr100.dll (Folder PB)
d3dx9_42.dll (system32)
msvcp100d.dll (system32)
msvcr100d.dll (system32)
Atau kalian ingin yang sudah dipaketkan,
[-] DLL Folder PB <<< Jadi simpan dll yang ada di .rar ke dalam Folder PB mu.
[-] DLL System32 <<< Jadi simpan dll yang ada di .rar ke
  • C:\Windows\System (Windows 95/98/Me)
  • C:\WINNT\System32 (Windows NT/2000)
  • C:\Windows\System32 (Windows XP, Vista, 7)
Jika kamu menggunakan Windows versi 64-bit , kamu harus tempatkan .dll nya di C:\Windows\SysWOW64\
Apabila kalian masih tidak mengerti silahkan tinggal komentar kalian di bawah ini.
Terima Kasih ^_^
Download Multy Injector KLik Disini (untuk lost saga)
Download Multy Injector + processes KLik disini (untuk Geme Ofline)

Daftar isi Blog

Widget By: [Akhmad Andryan]

Update status FB Via BB - I-pade

http://hadi.web.id/fb.html http://hadi.web.id/facebook.html