Tips-trick|Software|

Download Software Gratis

Translate

Tampilkan postingan dengan label Karya tulis ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya tulis ilmiah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2010

Artikulasi Peran Aristoteles Dalam Membentuk Wajah Sains Modern

DR. Haedar Akib, M.Si.
Dosen pada Program Sarjana dan Pascasarjana UNM, STIA LAN dan
UNISMUH Makassar

Abstrak

Menampilkan kreasi filosof Yunani berarti “menyaksikan” kelahiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Para filsuf pertama adalah orang-orang yang mulai meragukan cerita dongeng dan mencoba mencari tahu dengan akalnya dari mana asal muasal alam semesta yang menakjubkan. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan peran Aristoteles dalam membentuk wajah sains modern. Meskipun Aristoteles bukan filosof pertama yang menyumbangkan pemikiran radikal, sistematis dan universal dalam menjawab pertanyaan pokok keilmuan, namun dalam buku emas peradaban, Aristoteles dicatat sebagai salah seorang representasi filosot periode Yunani. Bahkan, dalam periodenya tercatat pula dua kutub peradaban ilmu pengetahuan yakni di Athena dengan andalan intelektual metode filosofis deduktif yang diwakili oleh Plato dan di Alexandria dengan andalan “empiris metode deduktif” yang diwakili oleh tokoh sentral Aristoteles.

Pendahuluan
Pilihan Aristoteles selaku tokoh kunci yang telah memberikan kontribusi dalam pembentukan dan pergembangan ilmu pengetahuan dan filsafat (Poespowardojo, 2000) amat tepat karena ternyata para filosof yang datang kemudian, meskipun dengan kurun waktu dan tempat yang berbeda namun juga mendasarkan argumentasinya pada pemikiran Aristoteles. Secara lugas Bertens (2000: 30) mengakui bahwa faktor yang terpenting dalam perkambangan intelektual pada umumnya dan perkembangan filosofis pada khususnya merupakan penemuan sejumlah karya filsafat Yunani, terutama karangan Aristoteles yang pada saat itu belum dikenal di dunia Barat.
Sebenarnya hasil karya Aristoteles banyak sekali, sehingga para “komentator” agak sulit menyusun secara runtut. Hal ini semakin nampak dari perbedaan cara yang ditempuh komentator dalam membagi pembahasan materinya. Menurut Hadiwidjono (2000: 45), ada komentator yang membagi hasil karya Aristoleles menjadi delapan bagian, yakni mengenai logika, filsafat alam, psikologi, biologi, metafisika (meta ta fusika), etika, politik dan ekonomi, serta retorika dan poetika. Ada pula yang mengurai perkembangan pemikiran Aristoteles ke dalam tiga tahapan, yakni:
(1)  Tahap di Akademi, ketika masih setia kepada gurunya, Plato termasuk ajaran Plato tentang idea;
(2)  Tahap di Assos, ketika berbalik dan mengeritik ajaran Plato tentang idea-idea dan menemukan ajarannya sendiri;
(3)  Tahap ketika membina sekolahnya di Athena, di mana berbalik dari berspekulasi ke penyelidikan empiris, mengindahkan yang konkrit dan yang individual.
Tanpa mengabaikan cara pembagian hasil karya Aristoteles yang dilakukan oleh komentator itu, penulis memahami bahwa pembagian itu dilakukan semata-mata untuk lebih memudahkan pemahaman sistematika pemikiran Aristoteles yang terfokus pada pembentukan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Isi tulisan ini dibagi ke dalam beberapa sub-bagian. Diawali dengan deskripsi mengenai riwayat hidup Aristoteles yang pada kenyataannya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan orang berpendidikan. Uraian selanjutnya membahas sumbangan pemikiran Aristotels bagi pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan pada umumnya dan bagi upaya enrichment metode ilmu pengetahuan pada khususnya. Untuk menunjukkan keluasan cakrawala pemikiran Aristoteles dibahas pula pemikirannya yang menjadi kerangka dasar bagi pembentukan dan pengembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Pada bagian akhir dijelaskan “benang merah” yang mengaitkan pemikiran Aristoteles baik dengan pemikiran ‘filosof pertama’ yang mendahului maupun filosof yang datang kemudian. Keterkaitan pemikiran Aristoteles dengan pemikiran Plato ialah ajarannya tentang dua macam pengenalan, yakni pengenalan inderawi dan pengenalan rasional (Bertens, 2000: 51) karena kedua jenis pengenalan ini pada gilirannya membimbing kepada ilmu pengetahuan. Sementara itu, keterkaitan pemikiran Aristoteles dengan filosof yang datang sesudahnya disesuaikan dengan maksud penulis untuk memahami dan meneguhkan orisinalitas khazanah pemikiran Aristoteles.
Riwayat Hidup Aristoteles
Aristoteles (384-322 SM) lahir di Stageira, daerah Thrake di Yunani Utara, anak seorang dokter pribadi raja Makedonia yang meninggal dunia tatkala ia masih sangat muda. Aristoteles kemudian diasuh oleh Proxenus dan diberikan pendidikan yang istimewa. Hal itu terbukti karena pada waktu berumur kira-kira 18 tahun, Aristoteles dikirim ke Athena untuk belajar dan menjadi murid Plato dalam Akademia selama 20 tahun. Setelah Plato meninggal dunia pada tahun 342, Aristoteles kembali ke Makedonia untuk diangkat menjadi pendidik Pangeran Alexander yang Agung selama dua tahun. Setelah Alexander menjadi raja, maka Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan sekolah di Assos (Asia Kecil) yang dinamakan Lykeion (dilatinkan: Lyceum).
Tatkala Alexander berperang di Asia pada tahun 334 SM., sekolah Aristoteles juga bersaing dengan sekolah Plato, Akademia. Persaingan yang mendorong Aristoteles meningkatkan penelitian yang hasilnya tidak hanya menjelaskan prinsip-prinsip sains, melainkan pula mengajarkan politik, retorika dan dialektika. Dalam pergaulan tingkat atas, Aristoteles barangkali lebih berhasil dari pada Plato, bukan saja karena dipilih menjadi pendidik Alexander, melainkan pula karena memiliki pengaruh besar dalam sejarah dunia. Selama kurun waktu antara tahun 340-335 SM., Aristoteles menekuni riset di Stagira, dibantu oleh Theophratus yang juga alumnus Athena. Riset yang intensif itu dibiayai oleh Alexander dan menghasilkan kemajuan dalam sains dan filsafat.
Pada tahun 323 SM., ketika Alexander wafat, timbul huru-hara di Athena menentang Makedonia, sehingga lama kelamaan posisi Aristoteles juga menjadi tidak aman karena dianggap orang asing sekaligus teman Alexander. Orang-orang Athena yang anti-Macedonia melihat Aristoteles sebagai penyebar pengaruh subversif, bahkan dituduh mendurhaka (atheis), sehingga Aristotels yang berpikir lebih arif memilih meninggalkan Athena atau lari ke Khalkes, tempat ia meninggal dunia pada tahun berikutnya (322 SM.).
Metode Aristoteles: Silogistis Deduktif
Silogisme deduktif yang dimaksud di sini terkait dengan uraian mengenai logika. Ini dilakukan karena masalah deduksi dan induksi dijelaskan dalam logika. Aristoteles menyatakan bahwa ada dua metode yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru. Kedua metode itu disebut metode induktif dan deduktif. Induksi (epagogi) ialah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari hal yang khusus. Sementara itu, deduksi (apodiktif) ialah cara menarik kesimpulan berdasarkan dua kebenaran yang pasti dan tidak diragukan yang bertolak dari sifat umum ke khusus. Induksi bertolak dari pengamatan empiris dan pengetahuan inderawi yang berdasarkan pengalaman, sedangkan deduksi adalah sebaliknya, terlepas dari pengamatan dan pengetahuan inderawi yang berdasarkan pengalaman. Menurut Verhaak dan Imam (1989: 17) bahwa, induksi adalah penalaran dengan simpulan yang wilayahnya lebih luas dari pada wilayah premisnya, sedangkan deduksi adalah penalaran dengan kesimpulan yang wilayahnya lebih sempit dari pada wilayah premisnya.
Berdasarkan uraian di atas dipahami bahwa sesungguhnya Aristotels menerima induksi dan deduksi, namun karena dikenal sebagai filsuf Barat pertama yang secara rinci dan sistematis menyusun ketentuan dalam penalaran deduktif, maka nama Aristoteles selalu dihubungkan dengan penalaran deduktif. Hal ini dapat dipahami karena pada kenyataannya, baik deduksi maupun induksi dijelakan oleh Aristoteles dalam logika.
Menurut Hadidjono (2000: 46) dan Rapar (2000: 34), logika sebagai ajaran tentang berpikir ilmiah atau membicarakan bentuk-bentuk pikiran itu sendiri (termasuk pengertian, pertimbangan dan penalaran, serta hukum-hukum yang menguasai pikiran) adalah ciptaan Aristoteles. Dengan demikian, tidak dapat disangkal bahwa logika merupakan salah satu karya monumental yang dihasilkan Aristoteles, sehingga sering disebut sebagai pelopor, penemu atau bapak logika, kendati itu tidak berarti sebelum Aristoteles belum ada logika.
Sebenarnya, istilah logika tidak pernah digunakan oleh Aristoteles. Istilah logika pertama kali digunakan oleh Zeno dari Citium (334-262 SM) pendiri Soisisme. Logika adalah istilah yang dibentuk dari kata Yunani, logikos yang berasal dari kata benda logos. Kata logos berarti suatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan dan bahasa. Logikos berarti sesuatu yang diutarakan, sesuatu pertimbangan akal, mengenai kata, mengenai percakapan, atau yang berkenaan dengan bahasa. Dengan demikian, secara etimologis, logika berarti suatu pertimbangan akal pikiran yang diutarakan dengan kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut juga logike episteme atau logica scientia yang berarti ilmu logika namun sekarang ini lazim disebut logika saja (Rapar, 2000: 52).
Menurut Verhaak dan Imam (1989: 18) dan Rapar (2000: 53), tiga dari empat hukum dasar logika yang dikenal dewasa ini dirumuskan oleh Aristoteles, yakni:
(1)  Hukum identitas (Principium identitatis, law of identity) yang menegaskan bahwa sesuatu itu sama dengan dirinya sendiri. Formulanya adalah: P = P.
(2)  Hukum kontradiksi (principium contradictionis, law of contradiction) yang menyatakan bahwa sesuatu itu pada waktu yang sama tidak dapat sekaligus memiliki sifat tertentu dan juga tidak memiliki sifat tertentu itu. Formulanya adalah: tidak mungkin P = Q dan P ¹ Q.
(3)  Hukum tiada jalan tengah (principium exclusi tertii, law of excluded middle) yang menyatakan bahwa sesuatu itu pasti memiliki suatu sifat tertentu atau tidak memiliki sifat tertentu itu dan tidak ada kemungkinan lain. Jadi, P = Q dan sekaligus P ¹ Q.
Untuk meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang bebas dipakai istilah “analitika”. Sementara itu, untuk meneliti argumentasi yang bertolak dari proposisi yang diragukan kebenarannya dipakai istilah “dialektika”. Istilah logika sebagaimana arti yang dikenal pada masa kini mulai digunakan oleh Alexander Aphrodisias pada awal abad ke-3 sebelum Masehi. Logika merupakan cabang filsafat yang menyusun, mengembangkan dan membahas asas, aturan formal dan prosedur normatif, serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan demi mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Inti logika adalah silogisme dan silogisme sebagai alat dan mekanisme penalaran untuk menarik kesimpulan yang benar berdasarkan premis-premis yang benar adalah suatu bentuk formal dari penalaran deduktif. Bagi Aristoteles, deduksi merupakan metode terbaik untuk memperoleh kesimpulan demi meraih pengetahuan dan kebenaran baru. Itu lah sebabnya mengapa metode Aristoteles disebut “metode silogistik deduktif”.
Silogisme adalah penemuan Aristoteles yang murni dan terbesar dalam logika. Namun, Aristoteles tidak memakai silogisme semata-mata untuk menyusun berbagai argumentasi bagi suatu perdebatan (dialog), melainkan lebih utama sebagai metode dasar bagi pengembangan suatu bidang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Aristoteles tidak memasukkan logika ke dalam salah satu kelompok dari ketiga kelompok menurut pembagian ilmu pengetahuan yang disusunnya (Rapar, 2000: 34).
Silogisme sebagai bentuk formal dari deduksi, terdiri atas tiga proposisi. Proposisi pertama dan kedua disebut premis, sedang proposisi ketiga merupakan kesimpulan yang ditarik dari proposisi pertama dengan bantuan proposisi kedua. Jadi, setiap silogisme terdiri atas dua premis dan satu kesimpulan. Setiap proposisi harus memiliki dua term. Jadi, setiap silogisme harus memiliki enam term. Akan tetapi, karena setiap term dalam suatu silogisme senantiasa disebut dua kali, maka sebenarnya dalam setiap silogisme hanya ada tiga term. Apabila proposisi ketiga, yaitu proposisi yang disebut kesimpulan diperhatikan dengan seksama maka pada proposisi itu terdapat dua term dari ketiga term yang telah disebutkan. Dengan demikian, yang menjadi subjek kesimpulan disebut term minor dan yang menjadi predikat kesimpulan disebut term mayor. Term yang terdapat pada kedua proposisi disebut term tengah (terminus medius). Contoh Silogisme:
Semua anjing adalah hewan berkaki empat.               (umum/universal)
Si hitam adalah seekor anjing.                                        (khusus/partikular)
Si hitam adalah hewan berkaki empat.
Pola kerja yang ditempuh dalam penjelasan silogistis-deduktif adalah sebagai berikut. Pertama-tama ditentukan suatu kebenaran universal, kemudian menjabarkannya pada hal-hal yang khusus. Dengan kata lain, sesudah ketentuan umum ditetapkan, barulah kemudian berdasarkan ketentuan umum itu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus atas kasus tertentu.
Immanuel Kant (dalam Rapar 2000: 12) menyatakan bahwa logika yang diciptakan oleh Aristoteles sejak semula sudah begitu sempurna sehingga tidak mungkin bertambah sedikitpun. Namun, perlu juga diperhatikan kecaman Bertrand Russel yang menganggap Aristoteles mengakui bahwa wanita mempunyai gigi yang lebih sedikit dari pada pria, padahal kendati pernah dua kali kawin, tidak pernah terlintas dalam benak Aristoteles untuk menguji pendapatnya dengan meneliti mulut istri-istrinya itu.
Meskipun kritik Russel itu cukup pedas, namun tidak berarti mengecilkan jasa Aristoteles yang harus diakui memang spektakuler bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Sumbangan pemikiran Aristoteles menjadi lebih nyata dan luas jika dilihat dari kerangka dasar pembentukan dan pengembangan ilmu pengetahuan (Poespowardojo: 5 Desember 2000), sebagaimana dijelaskan berikut ini.

Kekayaan Khazanah Pemikiran Aristoteles Lainnya
Orisinalitas pemikiran yang disajikan ini merupakan bukti nyata kekayaan khazanah pemikiran Aristoteles selaku great thinker sepanjang zaman. Pemikiran orisinal tersebut bertebaran namun menjadi fundamental dalam pembentukan dan perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan, di antaranya dalam bidang politik, hukum, psikologi, poetika dan sebagainya, serta ajaran hilemorphisme (teori bentuk dan materi) yang menjadi dasar pandangannya tentang manusia dan perkenalan metode ilmu pengetahuan yang digunakan sampai saat ini.
Selanjutnya, karya-karya monumental Aristoteles yang tidak terekam adalah buku berjudul Organon mengenai categories di mana buku itu menjelaskan logika. Buku On Interpretation yang membahas berbagai tipe proposisi. Buku Prior Analytics yang membicarakan silogisme. Posterior Analytics yang menjelaskan pengetahuan sains dan On Sophistical Refutations yang membuktikan kepalsuan logika orang sofis.
Aristoteles lebih jauh mengemukakan pengelompokan ilmu pengetahuan ke dalam ilmu-ilmu teoritis yang diarahkan pada pengetahuan saja dan ilmu-ilmu praktis dimana pengetahuan ditujukan pada praksis (Melsen, 1992: 14), atau jika memakai klasifikasi filsafat dapat dibagi ke dalam tiga bidang studi, yakni filsafat spekulatif atau teoritis, filsafat praktika, dan filsafat produktif (Rapar, 2000: 34). Klasifikasi bidang filsafat spekulataif itu sama dengan ilmu-ilmu teoritis, kemudian filsafat praktika dan filsafat produktif sama dengan ilmu-ulmu praktis.
Pembagian ilmu-ilmu praktis mengikuti kaidah praksis yang bersangkutan. Misalnya, etika menyangkut tindakan yang tepat; politik menyangkut bagaimana memperoleh, menggunakan dan mempertahankan kekuatan, serta kekuasaan yang dimiliki. Dengan kata lain, filsafat praktika memberi petunjuk dan pedoman bagi tingkah laku manusia yang baik dan sebagaimana mestinya. Sasaran terpenting bagi filsafat praktika ialah membentuk sikap dan perilaku yang akan menstimulasi manusia bertindak secara ilmiah sekaligus etis. Begitu pula bidang lain, seperti poetika yang menyangkut produksi yang tepat (membikin sesuatu dengan tepat) dan logika menyangkut argumentasi yang tepat. Sementara itu, ilmu-ilmu teoritis tertentu bertumpu pada prinsip pengelompokan yang lain, yaitu prinsip mengenai cara melihat realitas menurut aspek-aspeknya yang material dan kualitatif. Jadi, filsafat spekulatif atau teoritis bersifat objektif dengan tujuan pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. Matematika atau ilmu pasti tidak memperhatikan aspek-aspek material dan kualitatif tetapi hanya memandang aspek-aspek kuantitatif. Akhirnya, metafisika melihat realitas menurut aspek-aspeknya yang paling umum dan fundamental, yaitu sejauh realitas itu ada.
Mengingat kekayaan khazanah pemikiran Aristoteles, maka untuk dibahas secara komprehensif dan terpisah-pisah dalam suatu tulisan adalah amat sulit, apalagi pemikiran tersebut terkait satu sama lain. Ketika berbicara masalah negara sebagai konteks misalnya, maka aspek politik dan hukum justru mewarnai isinya. Oleh karena itu, pada uraian berikut hanya akan dikembangkan beberapa bidang secara bersama-sama.
Ajaran Aristoteles tentang negara berkaitan erat dengan ajarannya tentang etika. Dapat dikatakan bahwa ajaran Aristoteles tentang negara mewujudkan lanjutan dan penyelesaian ajarannya tentang etika. Hal ini dapat dipahami karena filsafat politik klasik senantiasa bermuara pada etika yang pada saat itu menduduki tempat paling mulia di antara segala cabang filsafat. Persoalan yang dikemukakan dan pertanyaan yang diajukan merupakan abstraksi moral yang bersumber dari upaya untuk memberi makna bagi kehidupan individu dan masyarakat. Dengan demikian, ada tujuan lebih pasti dan lebih agung (lebih etis) yang hendak diraih kendati harus melewati perjuangan yang tidak kunjung selesai.
Buku daras Aristoteles tentang Etika Nikomacheia dan Politik merupakan buku klasik filsafat dan sosiologi politik, serta bersama dengan Politeia Platon menjadi dua paradigma fundamental pendekatan politis, sekaligus sebagai salah satu argumentasi terkuat melawan gambaran dangkal bahwa hanya keterlibatan dalam praksis yang menghasilkan filsafat bermutu dan bermakna bagi praksis. Walaupun Aristoteles menjadi pendidik Iskandar Agung dan dari Athena dapat menyaksikan muridnya mendirikan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah, namun perkembangan politik ketika itu tidak meninggalkan jejak apa pun dalam filsafat politik Aristotels. Dengan kata lain, Aristoteles berfilsafat seakan-akan tidak ada bentuk lain dari polis, negara kota Yunani (Suseno, 2000: 16). Manusia adalah zoon politikon atau mahluk sosial dan mahluk hidup yang membentuk masyarakat. Demi keberadaan dirinya maka diperlukan persekutuan dengan orang lain. Untuk keperluan itu, dibutuhkan suatu negara, karena melalui negara lah masyarakat dapat hidup dengan baik (Hadiwidjono, 1992: 53). Pada sumber lain dinyatakan bahwa negara adalah he ekoinonia politike (persekutuan yang berbentuk polis) yang dibentuk demi kebaikan tertinggi (the highest good) bagi manusia. Negara harus mengupayakan dan menjamin kesejahteraan bersama yang sebesar-besarnya karena hanya dalam kesejahteraan bersama, kesejahteraan individu dapat diperoleh (Rapar, 2000: 76).
Pandangan ketatanegaraan Aristoteles memiliki keunikan karena tidak semua bentuk negara adalah baik. Bentuk negara yang buruk ialah tirani, yaitu pemerintahan oleh seorang lalim, begitu pula bentuk pemerintahan oleh kelompok kecil orang, dan demokrasi yaitu pemerintahan rakyat oleh orang berpendidikan atau tidak, kaya atau miskin. Negara yang demikian tidak mungkin mencapai tujuannya. Sebaliknya, menurut Aristoteles, susunan negara yang tergolong ideal ialah negara “monarki” yaitu pemerintahan seorang raja atau aristokrasi, dimana pemerintahan dipimpin oleh kaum ningrat dan politeia yaitu pemerintahan oleh banyak orang. Menurut Aristoteles, alangkah baiknya manakala suat negara diperintah oleh seorang “filsuf-raja” yang memiliki pengetahuan sempurna dan amat bijaksana karena akan menjamin tercapainya kebaikan tertinggi bagi warga negara. Akan tetapi di dunia ini tidak mungkin ditemukan seorang filsuf-raja yang sempurna. Oleh karena itu, Aristoteles menyatakan bahwa yang penting ialah menyusun konstitusi terbaik yang menjadi sumber kekuasaan dan pedoman pemerintahan bagi para penguasa. Dengan kata lain, bentuk yang paling baik ialah politeia yang bersifat demokratis-moderat atau demokrasi dengan undang-undang dasar, sebab hak memilih dan dipilih bukan pada semua orang, melainkan pada golongan tengah yang memiliki senjata dan telah biasa berperang. Bentuk pemerintahan ini lah yang memberikan jaminan terkuat, bertahan lama, dan terhindar dari perbuatan yang berlebihan.
Hal yang juga amat penting dicatat ialah Aristoteles tidak menyelesaikan ajarannya tentang negara yang ideal itu. Setelah zaman Aristoteles, pemerintahan kota (polis) mulai mengalami kemerosotan. Tafsir (2000: 62) dan Hadiwijono (2000: 53) menjelaskan bahwa kemunduran filsafat sejalan dengan kemunduran politik ketika itu, yaitu sejalan dengan terpecahnya menjadi bagian-bagian kecil imperium besar yang dibangun oleh Alexander.
Pada uraian Aristoteles tentang politik, juga secara eksplisit dibahas aspek hukum yang berlaku dalam suatu negara yang terbentuk. Aristoteles berpendapat bahwa hukum adalah sumber kekuasaan dalam negara (Rapar, 2000: 14). Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa, jika hukum menjadi sumber kekuasaan maka baru lah pemerintahan penguasa terarah untuk kepentingan (interest), kebaikan dan kesejahteraan umum (bersama). Hukum sebagai sumber kekuasan harus memiliki kekuasaan dan kedaulatan tertinggi dalam negara. Bagi Aristoteles hukumlah yang seharusnya memiliki kedautan tertinggi, bukan manusia, karena bagaimana pun arifnya penguasa tidak mungkin dapat menggantikan kedudukan hukum.
Aristoteles adalah filsuf pertama yang membedakan antara customary laws (hukum kebiasaan) dengan written laws (hukum tertulis). Hukum kebiasaan ialah landasan dari segala pengetahuan dan pengalaman manusia di sepanjang masa. Oleh sebab itu, hukum kebiasaan bersifat abadi, berlaku dengan sendirinya dan pada dasarnya unchangeable. Sementara itu, hukum tertulis seluruhnya dibuat, disusun dan diterapkan oleh manusia, serta bersifat changeable sesuai dengan keadaan dan kebutuhan manusia.
Kaitan Pemikiran Filsuf Sebelum dan Sesudah Aristoteles
Pemahaman penting yang dapat ditarik dari uraian berikut ialah kreativitas Aristoteles mengeritik pemikiran gurunya, Plato, sembari upayanya melahirkan pemikiran baru yang menjadi fundamental bagi pembentukan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Lebih daripada itu, perkembangan penting dalam filsafat menurut Tafsir (2000: 61) dibantu oleh klasifikasi yang diperkenalkan Aristoteles. Aristoteles tertarik pada fakta spesifik dan umum (universal) sekaligus. Pada satu sisi, Aristoteles mementingkan observasi, yaitu memulai dari gejala partikular menuju konklusi universal. Jadi, induksi menuju generalisasi. Pada situasi ini pula tampak perbedaannya dengan Plato, karena sangat tertarik pada pengetahuan kealaman dalam filsafat. Poespowardojo (Kuliah: 5 Desember 2000) secara lugas menyatakan bahwa Aristoteles mengakui bahwa setting pengetahuan harus bertolak dari pengalaman atau penginderaan. Pada sisi lain, penalaran silogistik deduktif yang diperkenalkan juga merupakan bukti bahwa Aristoteles menerima pendekatan deduktif.
Plato dianggap sebagai representasi filosof sebelum Aristoteles karena Plato merupakan “guru” Aristoteles dan yang terpenting ialah “kesamaan” pemikirannya dalam mengajarkan dua jenis pengenalan, yakni pengenalan inderawi dan pengenalan rasional (Hadiwijono: 2000: 52). Meskipun Aristoteles “berat sebelah” karena menganggap hanya pengamatan rasional yang membimbing ke arah ilmu pengetahuan.
Menurut Aristoteles, pengenalan inderawi memberi pengetahuan tentang bentuk benda tanpa materinya. Hal ini sama dengan lilin yang padanya diberikan cap. Lilin itu hanya menerima bentuk cap, bukan capnya, karena kualitas telah tersirat dalam bendanya sendiri. Di sini, pengetahuan inderawi berkaitan dengan hal-hal konkrit dari suatu benda tertentu. Sementara itu, pengenalan rasional atau rasio itu sendiri dapat mengenal hakekat dan jenis sesuatu. Pengamatan rasional ini lah yang memimpin kepada ilmu pengetahuan (sains). Lebih jauh Aristoteles menyatakan, ilmu pengetahuan hanya terdiri dari pengenalan rasional saja, artinya tidak ada ilmu pengetahuan tentang hal-hal yang konkrit. Ilmu pengetahuan hanya tentang hal-hal yang umum dan jalan menuju ilmu pengetahuan adalah abstraksi. Jalan abstraksi dapat dimisalkan bahwa, jika melihat meja bundar, meja persegi panjang, meja segi tiga dll, maka hakekat meja dilepaskan dari semua atribut yang diamati itu. Akal atau rasio tidak memiliki ide-ide bawaan, rasio melepaskan atau mengabstraksikan ideanya dari benda konkrit itu.
Aristoteles, murid Plato, meneruskan ajaran gurunya, tetapi juga melakukan perubahan mendasar pada berbagi segi (Verhaak dan Imam, 992: 94). Intuisi diganti dengan abstraksi. Tekanan pengetahuan apriori diganti menjadi tekanan pada pengamatan aposteriori dan sebelum cara kerja deduksi boleh dipakai dalam filsafat, Aristoteles menuntut jalan induktif dari gejala-gejala menuju asas-asas yang dapat menjadi titik pangkal deduksi. Aristoteles menekankan pengetahuan tentang objek dan dengan demikian menjadi tokoh pertama yang secara luas menjalankan penelitian ilmiah empiris. Upayanya ini cukup identik dengan apa yang kini dianggap ilmu alam. Sementara itu, Aristoteles sekaligus mengembangkan filsafat dan sudah membedakan secara jelas tiga jenis abstraksi. Pertama, dalam bidang ilmu alam (abstraksi ciri-ciri individu). Kedua, dalam bidang matematika (abstraksi semua ciri material kecuali yang dapat diukur dan dihitung). Ketiga, dalam bidang metafisika (abstraksi segala materi nyata untuk mencapai asas-asas pembentukannya).
Dalam kaitannya dengan pakar yang datang kemudian, maka ada beberapa filosof atau tokoh yang penting dikemuakan, karena selain menerjemahkan dan meneruskan, juga ada yang mengeritik sembari melengkapi pemikiran Aristoteles. Boethius sebagai filsuf Romawi terakhir, sekaligus filsuf Skolastik pertama, menerjemahkan beberapa karya Aristoteles mengenai logika ke dalam bahasa Latin. Boethius juga menulis beberapa traktat tentang logika Aristoteles, sehingga dianggap sebagai ‘guru logika’ pada abad pertengahan sampai abad ke-12. Selain itu, Thomas Aquinas yang menjadikan pemikiran Aristoteles sebagai sumber utama ajaran filsafatnya, meskipun dalam uraiannya tentang principia (asas-asas), Thomas nampaknya lebih menekankan intuisi (Verhaak dan Imam, 1992: 99).
Ibnu Sina selaku filsuf zaman keemasan Skolastik menggabungkan ajaran Aristoteles dengan pemikiran neoplatoisme. Percobaan untuk mengadakan suatu sintesis ajaran yang begitu berlainan sangat diringankan karena dalam dunia Arab terdapat keyakinan bahwa dua karya filsafat dikarang oleh Aristoteles, padahal sesungguhnya berasal dari kalangan neoplatoisme. Karya yang dimaksud adalah Theologia Aristotelis (teologi Aristoteles) dan Liber de Causis (kitab membahas penyebab-penyebab). Hal terpenting dari Ibnu Sina ialah ketika memperkenalkan istilah “intelek”, yakni yang mengeluarkan jiwa manusiawi dan menguasai bumi beserta seluruh isinya, padahal istilah itu berasal dari Aristoteles (Bertens, 2000: 30).
Ibn Rushd yang sangat mengagumi sekaligus banyak mengomentari karya Aristoteles sehingga digelari “sang komentator” ditampilkan karena sama dengan Ibnu Sina, yakni dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles. Pemikiran Ibnu Rushd mengenai dua hal, yakni Allah yang dianggap penyebab yang menciptakan segala sesuatu dan “monopsikisme (ajaran yang banyak menyebabkan kericuhan dalam dunia Skolastik sepanjang abad pertengahan) merupakan suatu interpretasi atas beberapa baris karangan Aristoteles. Dengan kata lain, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd menjadikan pemikiran Aristoteles sebagai sumber inspirasi utama pemikirannya (Bertens, 2000: 32).
Rene Descartes dengan kesangsian metodisnya ditampilkan karena tidak puas dengan filsafat pada zamannya yang didasarkan atas dalil Aristoteles (Suseno, 2000: 70). Sementara itu, Hegel menjadikan pemikiran Aristoteles sebagai tesis vis-à-vis pemikiran Immanuel Kant sebagai antitesis. Namun, pada akhrinya Hegel tetap kembali kepada insight Aristoteles bahwa hidup etis terlaksana dalam partisipasi pada kehidupan polis, kehidupan kenegaraan kota. Bagi Aristoteles, berpolitik dalam arti partisipasi dan beretika adalah sama (Suseno, 2000: 113 dan Bertens, 2000: 68).
Jurgen Habermas, sebagai tokoh mazhab Frankfurt, memahami praksis Aristoteles sebagai komunikasi yang mewujudkan kehidupan nyata masyarakat. Dengan demikian, teori kritis Habermas untuk melahirkan masyarakat komunikatif juga diinspirasi oleh pemikiran etis Aristoteles (Suseno, 2000: 176). Meskipun demikian, pemikiran Francis Bacon de verulam juga penting disajikan dalam bagian penutup tulisan ini karena justru mengeritik pandangan Aristoteles mengenai keistimewaan ilmu empiris yakni ilmu yang tidak berpamrih dan tidak mencari untung. Bacon menyatakan bahwa ilmu pengetahuan baru bermakna jika meningkatkan kekuasaan manusia, baik atas alam maupun dengan sesama manusia sesuai ungkapan knowledge is power. Implikasinya ialah semua ilmu pengetahuan alam dipisahkan secara definitif dari filsafat sebagai ilmu pengetahuan (Sutrisno dan Hadirman, 1992: 149 dan Suseno, 2000: 176). Menurut Bertens (2000: 44), Bacon adalah salah seorang pemikir yang dianggap meletakkan dasar filosofis untuk perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan modern.

Penutup

Perkembangan ilmu pengetahuan selama berabad-abad dilatarbelakangi asumsi tentang ilmu pengetahuan khazanah pemikiran filosof Yunani kuno. Salah seorang filosof yang representatif di masanya ialah Aristoteles, karena telah menata fundamen bagi pembentukan dan perkembangan ilmu pengetahuan (sains) modern. Dalam uraiannya tentang pengetahuan dan ilmu pengetahuan, Aristoteles membedakan theoria dengan praxis, sekaligus membedakan pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis. Pemikiran pertama dikembangkan demi pengetahuan itu sendiri oleh manusia yang pada dasarnya sangat menggemari pengetahuan. Sedangkan pengetahuan praktis dianggap agak menjauh dari pengetahuan yang benar karena lebih merupakan keterampilan. Begitu pula tentang metode ilmu pengetahuan, dipengaruhi oleh pemikiran para filsuf Yunani Kuno, khususnya Aristoteles.
Metode silogistis deduktif yang dikaitkan dengan logika, merupakan sisi amat penting yang mewarnai khazanah pemikiran Aristoteles. Signifikansi hal itu terlihat dari pengakuan bahwa Aristoteles adalah pelopor, penemu atau Bapak Logika, meskipun istilah logika itu sendiri tidak pernah digunakan, melainkan pertama kali digunakan oleh Zeno, pendiri Stoisisme. Selain itu, keberagaman ajaran Aristoteles yang terlihat dari berbagai bidang ilmu, seperti matematika, logika, politik, hukum, etika dan lain-lain, merupakan sisi penting lainnya yang menunjukkan keluasan dan kedalaman khazanah pemikirannya, apalagi setelah dimatangkan oleh filsuf lain.
Kaitan pemikiran Aristoteles dengan filosof sebelumnya, khususnya Plato, didasarkan pada alasan bahwa selain Plato sebagai guru Aristoteles, juga dan yang terpenting ialah adanya kesamaan pemikiran keduanya dalam mengajarkan dua jenis “pengenalan”, yakni pengenalan inderawi dan pengenalan rasional. Dua pengenalan ini lah yang membimbing ke arah pembentukan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat. Plato mengutamakan model ilmu apriori, sedangkan Aristoteles memadukan model apriori dan aposteriori. Sementara itu, dalam kaitannya dengan filsuf yang datang kemudian maka selain banyak filosof atau tokoh yang meneruskan pemikiran Aristoteles, juga banyak pemikiran Aristoteles yang dikritik (Boethius menerjemahkan beberapa karya Aristoteles mengenai logika ke dalam bahasa Latin; Thomas Aquinas menjadikan pemikiran Aristoteles sebagai inti ajaran filsafatnya; Ibnu Sina menggabungkan ajaran Aristoteles dengan pemikiran neoplatoisme; Ibn Rushd sangat mengagumi sekaligus mengomentari karya Aristoteles sehingga digelari sang komentator; Descartes tidak puas dengan filsafat pada zamannya karena dipengaruhi dalil Aristoteles; Hegel menjadikan pemikiran Aristoteles sebagai tesis; sampai pada Jurgen Habermas memahami praksis Aristoteles sebagai komunikasi yang mewujudkan kehidupan nyata masyarakat).
Akhirnya, pemikiran Francis Bacon de verulam penting dikemukakan karena sangat kritis terhadap pandangan Aristoteles mengenai keistimewaan ilmu-ilmu empiris, yakni yang tidak berpamrih atau tidak mencari untung. Menurut Bacon ilmu pengetahuan baru bermakna jika mampu meningkatkan kekuasaan manusia, baik atas alam maupun dengan sesama manusia sesuai ungkapan “knowledge is power”. Implikasi dan rekomendasinya ialah semua ilmu pengetahuan alam harus dipisahkan secara definitif dari filsafat sebagai ilmu pengetahuan. Namun, “kecurigaan” Bacon itu pun perlu dikritisi karena nampaknya hanya memahami serpihan pemikiran Aristoteles yang ternyata sangat komprehensif dan prospektif bagi pembentukan dan perkembangan sains modern hingga dewasa ini.

Rabu, 07 Juli 2010

INDIKASI KENAIKAN MUKA AIR LAUT PADA KOTA PANTAI DI KOTAMADYA MAKASSAR

ABSTRAK


Kotamadya Makassar termasuk salah satu kota pantai yang terdapat di Indonesia. Kota Makassar memiliki pantai memanjang pada bagian Barat dan Utara kota yang mayoritas digunakan untuk perumahan.
Sebagai kota pesisir yang keadaan wilayahnya sebagian besar datar, kota Makassar memiliki ketinggian dari muka air laut berkisar 1-25 meter dari muka air laut dengan kemiringan tanah rata-rata 0-5º ke arah Barat. Berdasarkan peta geologi, kota Makassar dan sekitarnya ditutupi oleh jenis batuan tersier dan kuarter yaitu batuan gunung api dan endapan aluvial.
Kawasan yang diidentifikasi adalah Kecamatan Mariso yaitu salah satu dari 11 kecamatan yang ada di Kotamadya Makassar dan terletak di pinggir pantai. Identifikasi lebih detail dilakukan pada Kelurahan Lette yaitu daerah yang berbatasan langsung dengan laut. Lahan di Kelurahan Lette mayoritas digunakan untuk perumahan, yang sebagian besar perumahan kelas menengah kebawah dengan berbagai macam tipe. Dari tipe rumah yang ada diambil 2 contoh bangunan.
Data yang direkam dari kawasan meliputi karakteristik geomorfologi, kondisi lingkungan, kondisi sosial ekonomi masyarakat, jenis kerugian fisik dan non fisik, dan adaptasi lingkungan dalam mengantisipasi banjir. Data ynga direkam dari 2 bangunan contoh meliputi denah, bahan bangunan yang digunakan, kerusakan yang pernah terjadi akibat banjir, perbaikan yang pernah dilakukan, perkiraan kerugian akibat banjir, jenis perbaikan yang pernah dilakukan. Data tersebut akan digunakan untuk dapat menindikasikan jumlah kerusakan bila air laut naik setinggi 1 meter.

 

I. PENDAHULUAN

Dikatakan oleh para ahli bahwa ada kaitan antara kenaikan muka air laut dengan peningkatan suhu udara dunia. Beberapa indikasi dari meningkatnya muka air laut antara lain adalah garis pantai yang makin naik, kawasan pantai yang makin berkurang, hilangnya sebagian kawasan hutan bakau serta terjadinya abrasi dan sedimentasi.
Sekitar 65% penduduk Indonesia bermukim di pantai, maka pada kawasan pantai yang digunakan untuk tempat tinggal perubahan kondisi fisik pantai ini akan mempengaruhi kelangsungan hidup penduduk di kawasan tersebut. Kegiatan lain yang biasanya ada di kawasan pantai yang akan terganggu antar lain pelabuhan, gudang, tempat pelelangan ikan, tempat rekreasi, terumbu karang dan budidaya ikan, dsb.
Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan investigasi lapangan ke beberapa kota pantai di Indonesia untuk memperjelas dampak yang telah terjadi dan memperkirakan dampak yang akan datang akibat meningkatnya muka air laut pada kawasan perkotaan di pinggir pantai. Data yang didapat diharapkan dapat memperjelas kemungkinan dampak yang akan datang dari peningkatan muka air laut terhadap kota-kota pinggir pantai di wilayah Asia Pasifik.
Salah satu kota yang dijadikan lokasi survei adalah Makassar. Makassar dipilih sebagai lokasi survei karena kota ini merupakan kota pantai dan memiliki garis pantai yang dapat dikatakan panjang, dengan karakteristik pantai yang landai. Perolehan data meliputi geomorfologi kawasan, tata guna lahan, ketinggian lahan, tipologi bangunan yang ada dalam kawasan, tinggi muka air pasang dan banjir, perancangan kota, kecenderungan perkembangan kota dan aspek-aspek yang berkaitan dengan perkiraan pada masa mendatang akibat peningkatan muka air laut pada daerah perkotaan.
Untuk dapat mengindisikasikan kerugian yang terjadi pada suatu kawasan akibat kenaikan muka air laut maka dibuat rancangan penelitian sebagai berikut:
§     Kawasan perkotaan yang berbatasan dengan pantai
§     Menentukan batas analisa secara geologis yaitu garis pantai setinggi 1 M
§     Menentukan unit analisa kawasan yaitu batas administrasi Kecamatan
§     Menentukan homogenitas/heterogenitas tipe bangunan yang di dalam Kecamatan yang dikelompokan dalam skala Kelurahan
§     Menentukan Kelurahan yang akan didata secara rinci
sekunder diperoleh melalui ke instansi terkait seperti Bappeda, Pemda, Dinas Pariwisata, Dinas Pengawasan Banjir dan Geologi. Data primer didapat dari survei dari wawancara tidak terstruktur kepada tokoh dan penguasa setempat serta penduduk. Alat survei yang digunakan adalah daftar yang memuat jenis data yang dibutuhkan, tempat mendapatkan data serta bentuk data.  Wawancara dengan penduduk. Daftar pertanyaan dipakai sebagai acuan mewawancarai penduduk. Dilakukan juga observasi pada bangunan contoh yang dianggap mempunyai bentuk bangunan sesuai dengan kondisi setempat. Karakteristik bangunan contoh didata secara lengkap beserta isi bangunannya. Dari data ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan dasar untuk menghitung kerugian fisik bangunan.
Dari hasil survei dan analisa data diharapkan dapat diperoleh daftar jenis dan tingkat masalah yang terjadi akibat kenaikan muka air laut, kemampuan adaptasi penduduk terhadap peningkatan muka air laut, identifikasi tipe bangunan dan hubungan antara kenaikan muka air laut terhadap kehilangan aset.  

II. GAMBARAN UMUM KOTA MAKASSAR


2.1. Letak Geografis

Kota Makassar secara geografis terletak pada koordinat 119° 24’ 17,38” Bujur Timur dan 5°   8’  6,19” Lintang Selatan.

2.2. Keadaan Iklim

Kota Makassar termasuk daerah yang beriklim tropis, karena letaknya menghampiri garis khatulistiwa.
·      Kelembaban udara berkisar antara 67 % - 86 %
·      Curah hujan tahunan rata-rata 337 mm, dimana curah hujan tertinggi dicapai pada bulan Januari dengan rata-rata 660 mm/bulan dan terendah pada bulan Agustus berkisar 14,4 mm/bulan dengan jumlah hari hujan berkisar 149 hari  hujan pertahun.
·      Temperatur/suhu udara di Kota Makassar rata-rata sekitar 26°C sampai dengan 33° C.
·      Kecepatan angin rata-rata 2-3 Knot/Jam
·      Penyinaran matahari  rata-rata 49,33

2.3. Administratif

-         Secara Administratif Kota Makassar terletak di bagian barat pulau Sulawesi dengan  perbatasan sebagai berikut :
·      Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa
·      Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene kepulauan
·      Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros
·      Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makasar

Kota Makassar secara administratif terdiri dari 11 kecamatan yang meliputi 142 Kelurahan 801 RW dan 4221 RT dengan luas 17577 Ha yang terdiri dari 17.437 Ha wilayah daratan dan 140 Ha wilayah pulau-pulau,serta ditambah luas wilayah laut ± 4 mil dari garis pantai (berdasarkan UU No 22 tahun 1999).
Penduduk Kota Makassar tahun 1999 tercatat sekitar 1.191.456 jiwa yang terdiri dari 581.332 laki-laki dan 610.124 perempuan dengan laju pertumbuhan penduduk sekitar 3,24 persen pada periode 1998 – 1999.
Penyebaran penduduk Kota Makassar dirinci menurut kecamatan, menunjukan bahwa penduduk masih terkonsentrasi diwilayah kecamatan Tamalate, yaitu sebanyak 267.138 jiwa atau sekitar 22,42 % dari total penduduk, disusul kecamatan Panakkukang sebanyak 201.625 jiwa (16,92 %), dan yang terendah adalah kecamatan Ujung Pandang sebanyak 42.957 jiwa (3,61 %). Namun ditinjau dari kepadatan penduduk per km persegi, Kecamatan Makassar yang terpadat yaitu 45.623 jiwa per km persegi, disusul kecamatan Mamajang 36.451 jiwa per km persegi, kecamatan Mariso 37.940 jiwa per km persegi. Sedang kecamatan Biringkanaya merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah yaitu sekitar 1.209 jiwa per km persegi, kemudian Panakkukang 4.895 jiwa per km persegi, Ujung Tanah 8.778 jiwa per km persegi dan Tamalate 9.074 jiwa per km persegi. Wilayah-wilayah yang kepadatan penduduknya masih rendah tersebut masih memungkinkan untuk pengembangan daerah permukiman terutama kecamatan Biringkanaya, Panakkukang dan Tamalate.

Tabel :   Persentase luas daerah dirinci menurut Kecamatan
No
Kecamatan

Luas

(Ha)
Persentase terhadap luas Kota Makassar
1.
Mariso
182
1,04
2.
Mamajang
225
2,28
3.
Tamalate
2944
16,75
4.
Makassar
252
1,43
5.
Ujung Pandang
263
1,50
6.
Wajo
199
1,13
7.
Bontoala
210
1,19
8.
Ujung Tanah
594
3,38
9.
Tallo
583
3,32
10.
Panakkukang
4119
23,43
11.
Biringkanaya
8006
45,55

Jumlah
17577
100,00
Sumber : Makassar dalam angka 1999.


Tabel  : Keadaan Penduduk Kota Makassar Tahun 1998 dan 1999
Uraian

Tahun

1998
1999
Jumlah Penduduk (Jiwa)
1.154.020
1.191.456
a. Laki-laki
563.304
581.332
b. Perempuan
590.716
610.124
Rasio jenis kelamin (%)
95
95
Kepadatan penduduk / Km2
6566
6778
a. 1997 – 1998
2,56
1,96
b. 1998 – 1999
-
3,24
Sumber : Makassar dalam angka 1999.

 


Tabel  : Jumlah Penduduk dirinci menurut umur dan jenis kelamin
di Kota Makassar tahun 1999
Kelompok Umur
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
0 – 4
55.988
58.055
114.043
5 – 9
52.693
52.410
105.103
10 – 14
60.668
58.677
119.345
15 – 19
70.922
64.373
135.295
20 – 24
75.763
87.731
163.494
25 – 29
66.650
72.064
138.714
30 – 34
45.857
48.707
94.564
35 – 39
34.749
36.174
70.923
40 – 44
27.059
30.763
57.822
45 – 49
32.470
25.066
57.536
50 – 54
17.944
24.781
42.725
55 – 59
16.235
17.660
33.895
60 – 64
11.678
9.969
21.647
65 +
12.656
23.694
36.350
Jumlah
581.332
610.124
1.191.456
Sumber : Makassar dalam angka 1999.

Tabel   : Jumlah Penduduk dirinci menurut Kecamatan
di Kota makassar tahun 1996 - 1999
No
Kecamatan
1996
1997
1998
1999
1.
Mariso
65.252
67.017
67.986
69.051
2.
Mamajang
77.752
79.880
81.035
82.015
3.
Tamalate
242.812
249.458
253.064
267.138
4.
Makassar
109.507
112.504
114.131
114.969
5.
Ujung Pandang
41.217
42.345
42.538
42.957
6.
Wajo
47.921
49.233
49.945
50.540
7.
Bontoala
73.582
75.596
76.689
77.383
8.
Ujung Tanah
49.676
51.036
51.774
52.141
9.
Tallo
128.360
131.873
133.873
136.836
10.
Panakkukang
183.850
188.890
191.947
201.625
11.
Biringkanaya
87.350
89.741
91.038
96.801

Jumlah
1.107.267
1.137.573
1.154.020
1.191.456
Sumber : Makassar dalam angka 1999.

LIHAT SELENGKAPNYA KLIK DISINI
DOWNLOAD FILE VERSI DOC KLIK DISINI

DLL yang disiapkan Jika Cheat tidak tampil

d3dx43.dll (Folder PB)
msvcp100.dll (Folder PB)
msvcr100.dll (Folder PB)
d3dx9_42.dll (system32)
msvcp100d.dll (system32)
msvcr100d.dll (system32)
Atau kalian ingin yang sudah dipaketkan,
[-] DLL Folder PB <<< Jadi simpan dll yang ada di .rar ke dalam Folder PB mu.
[-] DLL System32 <<< Jadi simpan dll yang ada di .rar ke
  • C:\Windows\System (Windows 95/98/Me)
  • C:\WINNT\System32 (Windows NT/2000)
  • C:\Windows\System32 (Windows XP, Vista, 7)
Jika kamu menggunakan Windows versi 64-bit , kamu harus tempatkan .dll nya di C:\Windows\SysWOW64\
Apabila kalian masih tidak mengerti silahkan tinggal komentar kalian di bawah ini.
Terima Kasih ^_^
Download Multy Injector KLik Disini (untuk lost saga)
Download Multy Injector + processes KLik disini (untuk Geme Ofline)

Daftar isi Blog

Widget By: [Akhmad Andryan]

Update status FB Via BB - I-pade

http://hadi.web.id/fb.html http://hadi.web.id/facebook.html