Tips-trick|Software|

Download Software Gratis

Translate

Tampilkan postingan dengan label Silabus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silabus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juli 2010

ASUHAN KEPERAWATAN MENINGITIS VIRUS PADA ANAK

NO

KOMPONEN
URAIAN

1.

D E FI N I SI


Meningitis virus adalah suatu sindrom infeksi virus susunan saraf pusat yang akut dengan gejala rangsang meningeal, leukositosis dalam likuor serebrospinal dengan difrensiasi terutama limfosis, perjalanan penyakit tidak lama dan self limited tanpa komplikasi.

2.

ANATOMI  DAN FISIOLOGI PARU – PARU.

Meningen   ( Selaput Otak )
Selaput otak membungkus otak dan sumsum tulang belakang. Melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan cairan sekresi ( cairan serebrospinal ), memperkecil benturan atau getaran, terdiri lapisan :
1.    Duramater ( Lapisan Luar )
Selaput keras pembungkus otak merupakan jaringan ikat tebal dan kuat, dibagian tengkorak dan duramater propia di bagian dalam.
Dalam kanalis vertebralis kedua lapisan ini terpisah. Duramater terdapat rongga yang mengalirkan darah vena dari otak, dinamakan sinus longitudinalis superior terletak diantara kedua hemisfer otak.



2.    Arakhnoid ( Lapisan Tengah )
Selaput halus yang memisahkan duramater dengan piamater  yang membentuk sebuah kantung  atau balon berisi cairan otak meliputi seluruh sumsum saraf sentral.
Meedula spinalis terhenti di bawah lumbal I – II terdapat kantung berisi cairan, berisi saraf perifer yang keluar dari medula spimalis dapat dimanfaatkan untuk mengambil cairan otak yang disebut fungsi lumbal.
3.    Piamater I Lapisan Dalam )
Selaput tipis pada permukaan jaringan otak yang berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur jaringan ikat yang disebut turbekel, Tepi Falks serebri membentuk sinus longitudinalis inferior yang mengeluarkan darah dari falks serebri . Tentorium memisahkan serebri dengan serebelum.
a.    Diafragma Sellae, Lipatan seperti cicin dalam duramater dan menutupi sela turisika sebuah lekukan pada tulang stenoid yang hipofiser.
b.    Sistem Ventrikel, Beberapa rongga yang saling berhubungan, fleksus koroid yang mengeluarkan cairan ( Lequor serebrospinal ) dibentuk oleh jaringan pembuluh darah kapiler otak tepi piamater memblok ke ventrikel dan menyalurkan serebro spinal. Cairan ini hasil sekresi fleksus koroid yang bersifat alkali bening mirip plasma.
c.    Sirkulasi cairan serebro spinal, cairan ini oleh fleksus koroid ke ventrikel otak kemudian cairan masuk kedalam kanalais sumsung tulang belakang dan kedalam ruang ruang subarakhnoid melalui ventrikularis. Setelah mengalir keseluruh otak dan sumsum tulang belakang kembali ke sirkulasi melalui granulasi arakhnoid pada sinus ( sagitalis Superior
Cairan sebro spinal diabsorpsi olen vili pada arakhnoid, jumlahnya  + 80 – 200 cc mempunyai reaksi alkalis
Komposisi cairan serebro spinal antara lain air,  protein glukosa, garam dan limosit dan CO2
Fungsi cairan serebro spinalis :
1. Melembabkan otak dan medula spinalis
2. Melindungi alat dalam medula spinalis dan otak dari tekanan.
3. Melicinkan alat dalam medula spinalis dan otak.

3.

PATOGENESIS


Umumnya virus secara hematogen ( verimia ) sampai ke selaput otak. Enterovirus berkembang biak dalam trkatus degestivus menjalar ke kelenjar getah bening regional dan kemudian menimbulkan verimia.
Pada percobaan ditemukan bahwa virus herpes menjalar melalui serabut saraf.
Kelainan serebro spinal dan perjalanan penyakit yang “ Self Lemited “Biakan liquor terhadap kemungkinan penyebab mikroorganisme lain harus dikerjakan ( fungus, Liptospira, mikrobakteria ) kemungkinan mikroorganisme penyebabnya dapat disingkirkan .

4.

ETIOLOGI


Sindrome ini sebagian besar oleh virus seperti enterovirus ( poliomilitis, Coxacie A dan B ), Echovirus, “ Mump”, virus limfositik koriomeningitis, virus hepatitis dan adenovirus.

5.

PENATALAKSANAAN


1.    Pemberian antibiotik seperti Ampicillin. Gentamicin, Kanamisin secara intravena dan intramuskuler
2.    Pemberian cairan dan elektrolit.
3.    Berikan bantuan pernafaassan
4.    Tranpusi darah lengkap, leukosit.
5.    Pemberian dopamin, dobutamin atau steroid.
6.    Pemberian antikonvulsan
7.    Tiarh baring.

6.

ASUHAN KEPERAWATAN

1.    Tujuan
1)   Perawat mampu mewmberikan asuhan keperawatan pada anak dengan meningitis
2)   Perawat mampu mengatasi serangan kejang tiba-tiba dan pelaksanaan pasca serangan.
3)   Kelurga atau orang tua mengerti tentang penyakit, penyebab dan pengobatan anak
2. Pengkajian
1)   Data subyektif :
Riwayat kelahiran dan riwayat kesehatan anak
-           Penyakit dahulu seperti mastoiditis, sinusitis, trauma kepala atau craniotomi.
-            Perubahan tingkah laku, demam, mual, sakit, kepala, kaku leher, penglihatan ganda, gerakan mata yang terkontrol, sakit punggung, photophobia ( silau ), sakit tenggorokan.
2)   Data Obyektif
Menurunnya tingkat kesadaran, iritabilitas
( anak cengeng ), lemah, bingung, kejang
( vokal dan umum ), tanda kernig dan bruzuinski positif, opistotonus ( mulut mencucu ), fontanel menonjol, nistagmus, ptosis, pendengaran berkurang, takikardi, kaku kuduk, perubahan pola nafas, tekanan darah meningkat, muntah.
3)   Data penunjang:
-         Lumbal pungsi
-         Periksa darah , eletrolit, HB, leukosit, astrup.
-         Elektroencephalografi  ( EEG )

DOWNLOAD FILE VERSI DOC / MS-WORD KLIK DISINI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TRAUMA KEPALA

Head injury (Trauma kepala) termasuk kejadian trauma pada kulit kepala, tengkorak atau otak.
Batasan trauma kepala digunakan terutama untuk mengetahui trauma cranicerebral, termasuk gangguan kesadaran.
Kematian akibat trauma kepala terjadi  pada tiga waktu setelah injury yaitu :
1.  Segera setelah injury.
2.  Dalam waktu 2 jam setelah injury
3.  rata-rata 3 minggu setelah injury.
Pada umumnya kematian terjadi setelah segera setelah injury dimana terjadi trauma langsung pada kepala, atau perdarahan yang hebat dan syok. Kematian yang terjadi dalam beberapa jam setelah trauma disebabkan oleh  kondisi klien yang memburuk secara progresif  akibat  perdarahan internal. Pencatatan segera tentang status neurologis dan intervensi surgical merupakan tindakan kritis guna pencegahan kematian pada phase ini. Kematian yang terjadi 3 minggu atau lebih setelah injury disebabkan oleh berbagai kegagalan sistem tubuh.
Faktor 2 yang diperkirakan memberikan prognosa yang jelek adalah adanya intracranial hematoma, peningkatan usia klien, abnormal respon motorik, menghilangnya gerakan bola mata dan refleks pupil terhadap cahaya, hipotensi yang terjadi secara awal, hipoksemia dan hiperkapnea, peningkatan ICP.
Diperkirakan terdapat 3 juta  orang di AS mengalami trauma kepala pada setiap tahun.  Angka kematian di AS akibat trauma kepala sebanyak 19.3/100.000 orang. Pada umumnya trauma kepala disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas atau terjatuh.

Jenis Trauma Kepala :
1. Robekan kulit kepala.
    Robekan kulit kepala merupakan kondisi agak ringan dari trauma kepala. Oleh karena kulit kepala banyak mengandung pembuluh darah dengan kurang memiliki kemampuan konstriksi, sehingga banyak trauma kepala dengan perdarahan hebat. Komplikasi utama robekan kepala ini adalah infeksi.

2. Fraktur tulang tengkorak.
    Fraktur tulang tengkoran sering terjadi pada trauma kepala. Beberapa cara untuk menggambarkan fraktur tulang tengkorak :
a.   Garis patahan atau tekanan.
b.  Sederhana, remuk atau compound.
c.   Terbuka atau tertutup.
Fraktur yang terbuka atau tertutup bergantung pada keadaan robekan kulit atau  sampai menembus kedalam lapisan otak. Jenis dan kehebatan fraktur tulang tengkorak bergantung pada kecepatan pukulan, moentum, trauma langsung atau tidak.
Pada fraktur linear dimana fraktur terjadi pada dasar tengkorak biasanya berhubungan dengan  CSF. Rhinorrhea (keluarnya CSF dari hidung) atau otorrhea (CSF keluar dari mata).
Ada dua metoda yang digunakan untuk menentukan keluarnya CSF dari mata atau hidung, yaitu melakukan test glukosa pada cairan yang keluar yang biasanya positif. Tetapi bila cairan bercampur dengan darah ada kecenderungan akan positif karena darah juga mengadung gula. Metoda kedua dilakukan yaitu  cairan ditampung dan diperhatikan gumpalan yang ada. Bila ada CSF maka akan terlihat darah berada dibagian tengah dari cairan dan dibagian luarnya nampak berwarna kuning mengelilingi darah (Holo/Ring Sign).
Komplikasi yang cenderung terjadi pada fraktur tengkorak adalah infeksi intracranial dan hematoma sebagai akibat adanya kerusakan menigen dan jaringan otak. Apabila terjadi fraktur frontal atau orbital  dimana cairan CSF disekitar periorbital (periorbital ecchymosis. Fraktur dasar tengkorak dapat meyebabkan ecchymosis pada tonjolan mastoid pada tulang temporal (Battle’s Sign), perdarahan konjunctiva atau edema periorbital.

Commotio serebral :
Concussion/commotio serebral  adalah keadaan dimana berhentinya sementara fungsi otak, dengan atau tanpa kehilangan kesadaran, sehubungan dengan aliran darah keotak. Kondisi ini biasanya  tidak terjadi kerusakan dari struktur otak dan merupakan keadaan ringan oleh karena itu disebut Minor Head Trauma. Keadaan phatofisiologi secara nyata  tidak diketahui. Diyakini bahwa kehilangan  kesadaran sebagai akibat  saat adanya stres/tekanan/rangsang pada  reticular activating system pada midbrain menyebabkan disfungsi elektrofisiologi sementara. Gangguan kesadaran terjadi  hanya beberapa detik atau beberapa jam.
Pada concussion yang berat akan terjadi kejang-kejang dan henti nafas, pucat, bradikardia, dan hipotensi yang mengikuti keadaan penurunan tingkat kesadaran. Amnesia segera akan terjadi. Manifestasi lain yaitu nyeri kepala, mengantuk,bingung, pusing, dan gangguan penglihatan seperti diplopia atau kekaburan penglihatan.

Contusio serebral

Contusio didefinisikan sebagai kerusakan dari jaringan otak. Terjadi perdarahan vena, kedua whitw matter dan gray matter mengalami kerusakan. Terjadi penurunan pH, dengan berkumpulnya  asam laktat dan menurunnya konsumsi oksigen yang dapat menggangu fungsi sel.
Kontusio sering terjadi pada tulang tengkorak yang menonjol. Edema serebral dapat terjadi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan ICP. Edema serebral puncaknya dapat terjadi pada 12 – 24 jam setelah injury.
Manifestasi contusio bergantung pada lokasi luasnya kerusakan otak. Akan terjadi penurunan kesadaran. Apabila kondisi berangsur kembali, maka tingat kesadaranpun akan berangsur kembali tetapi akan memberikan gejala sisa, tetapi banyak juga yang mengalami kesadaran kembali seperti biasanya. Dapat pula terjadi hemiparese. Peningkatan ICP terjadi bila terjadi edema serebral.

Diffuse axonal injury.
Adalah injury pada otak dimana akselerasi-deselerasi injury dengan kecepatan tinggi, biasanya berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor sehingga terjadi terputusnya axon dalam white matter secara meluas. Kehilangan kesadaran berlangsung segera. Prognosis jelek, dan banyak klien meninggal dunia, dan bila hidup dengan keadaan persistent vegetative.

Injury Batang Otak

Walaupun perdarahan tidak dapat dideteksi, pembuluh darah pada sekitar midbrain akan mengalami perdarahan yang hebat pada midbrain. Klien dengan injury batang otak akan mengalami coma yang dalam, tidak ada reaksi pupil, gangguan respon okulomotorik, dan abnormal pola nafas.

Komplikasi :
Epidural hematoma.
Sebagai akibat  perdarahan pada lapisan  otak yang terdapat pada permukaan bagian dalam dari tengkorak. Hematoma epidural sebagai keadaan neurologis yang bersifat emergensi dan biasanya berhubungan dengan linear fracture yang memutuskan arteri yang lebih besar, sehingga menimbulkan perdarahan. Venous epidural hematoma berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan. Arterial hematoma terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah tulang temporal. Perdarahan masuk kedalam  ruang epidural. Bila terjadi perdarahan arteri maka  hematoma akan cepat terjadi. Gejalanya adalah penurunan kesadaran, nyeri kepala, mual dan muntah. Klien diatas usia 65 tahun dengan peningkatan ICP berisiko lebih tinggi meninggal dibanding usia lebih mudah.

Subdural Hematoma.
Terjadi  perdarahan antara dura mater dan lapisan arachnoid pada lapisan meningen yang membungkus otak. Subdural hematoma biasanya sebagai akibat adanya injury pada otak dan pada pembuluh darah. Vena yang mengalir pada permukaan otak  masuk kedalam sinus sagital merupakan sumber terjadinya subdural hematoma. Oleh karena subdural hematoma berhubungan dengan kerusakan vena, sehingga hematoma terjadi secara perlahan-lahan. Tetapi bila disebabkan oleh kerusakan arteri maka kejadiannya secara cepat. Subdural hematoma dapat terjadi secara akut, subakut, atau kronik.
Setelah terjadi perdarahan vena, subdural hematoma nampak membesar. Hematoma menunjukkan tanda2 dalam waktu 48 jam setelah injury. Tanda lain yaitu  bila terjadi konpressi jaringan otak maka akan terjadi peningkatan ICP menyebabkan penurunan tingkat kesadaran dan nyeri kepala.  Pupil dilatasi. Subakut  biasanya terjadi  dalam waktu 2 – 14 hari setelah injury.
Kronik subdural hematoma terjadi  beberapa minggu atau bulan setelah  injury.  Somnolence, confusio, lethargy, kehilangan memory merupakan masalah kesehatan yang berhubungan dengan subdural hematoma.

Intracerebral Hematoma.
Terjadinya pendarahan dalamn parenkim yang terjadi rata-rata 16 % dari head injury. Biasanya terjadi pada  lobus frontal dan temporal yang mengakibatkan ruptur pembuluh darah intraserebral pada saat terjadi injury. Akibat robekan intaserebral hematoma atau intrasebellar hematoma akan terjadi  subarachnoid hemorrhage.

      Collaborative Care.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memonitor hemodinamik dan mendeteksi edema serebral. Pemeriksaan gas darah guna mengetahui kondisi oksigen dan CO2.
Okdigen yang adekuat sangat diperlukan untuk mempertahankan metabolisma serebral. CO2 sangat beepengaruh untuk mengakibatkan vasodilator yang dapat mengakibatkan edema serebral dan peningkatan ICP. Jumlah sel darah, glukosa serum dan elektrolit diperlukan untuk memonitor kemungkinan adanya infeksi atau kondisi yang berhubungan dengan lairan darah serebral dan metabolisma.
CT Scan diperlukan untuk mendeteksi adanya contusio atau adanya diffuse axonal injury. Pemeriksaan lain adalah MRI, EEG, dan lumbal functie untuk mengkaji kemungkinan adanya perdarahan.
Sehubungan dengan contusio, klien perlu diobservasi 1 – 2 jam di bagian emergensi. Kehilangan tingkat kesadaran terjadi lebih dari 2 menit, harus tinggal rawat di rumah sakit untuk dilakukan observasi.
Klien yangmengalami DAI atau cuntusio sebaiknya tinggal rawat di rumah sakit dan dilakukan observasi ketat. Monitor tekanan ICP, monitor terapi guna menurunkan edema otak dan mempertahankan perfusi otak.
Pemberian kortikosteroid seperti hydrocortisone atau dexamethasone dapat diberikan untuk menurunkan inflamasi. Pemberian osmotik diuresis seperti mannitol digunakan untuk menurunkan edema serebral.
Klien dengan trauma kepala yang berat diperlukan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal dan mencegah kecacatan yang nmenetap. Dapat juga diberikan infus, enteral atau parenteral feeding, pengaturan posisi dan ROM exercise untuk mensegah konraktur dan mempertahankan mobilitas.

Asuhan keperawatan :
Pengkajian riwayat terjadinya injury akan membantu guna memahami trauma craniocerebral. Mengetahui jika klien kehilangan kesadaran akan membantu perawat untuk merencanakan tindakan keperawatan.
Asuhan keperawatan pada klien pada phase akut biasanya difukuskan pada  mempertahankan pengaliran udara dan pola nafas. Asuhan keperawatan ditujukan untuk mengkaji secara terus menerus dan memonitoring fungsi neurologis pengaruhnya terhadap berbagai sistem tubuh.
Banyak diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan  dengan hematoma intracranial atau sebagai akibat peningkatan ICP.

Diagnosa keperawatan :
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan Coma atau perdarahan masuk kedalam jalan nafas.
Tujuan :
Klien akan mempertahankan jalan nafas tetap efektif, ditandai :
1.  Jalan nafas bagian atas bebas dari sekresi.
2.  Pernafasan teratur (16-22)
3.  bunyi perbafasan jelas pada kedua dasar paru.
4.  Gerakan dada simetris.
5.  Tidak ada dispnea, agitasi, confusio.
6.  AGD normal ( PO2 diatas 90 mmHg dan PCO2 antara 30 – 35 mmHg..

Implementasi :
1.  Pertahankan jalan udara bebas.
2. Pertahankan jalan nafas tetap bebas.
3. Lakukan suction oropharynx dan trachea setiap 1 –2 jam.
4. Kaji RR setiap 1 –2 jam.
5. Cek bunyi nafas dan gerakan dada.
6. Monitor AGD.
7. Posisi baring semi prone/posisi lateral.
8. Berikan oksigen humidified.
9. Bantu atau pertahankan endotracheal tube, tracheostomy, dan mechanical ventilation  (bila diperlukan).

Diagnosa keperawatan :
Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan hipotensi/intracranial hemorrhage/hematoma/atau injury lain.
Tujuan :
Klien akan mempertahankan perfusi jaringan serebral yang adekuat, ditandai dengan :
1.  LOC stabil atau meningkat.
2.  GCS nilai 9 atau lebih.
3.  Temperatur kurang dari 38.5°C.
4.  refleks pupil terhadap cahaya baik.
5.  Respon motorik stabil atau peningkatan(gerakan lengan dan tungkai).
6.  ICP kurang dari 15 mmHg.
7.  tekanan sistolik diatas 90 mmHg.

Implementasi :
1.  Kaji LOC.
2.  Kaji lebarnya pupil setiap 1 – 4 jam.
3.  Kaji gerakan ekstraokuler setiap 1 – 4 jam.
4.  Cata respon verbal, gerakan tungkai, dorsiflexion dan plantar flexion setiap 1 – 4 jam.
5.  Jika klien tidak sadar, catat gerekan spntan atau upaya menghindari nyeri setiap 1 – 4 jam.
6.  Laporkan jika ada kelainan/kemunduran yang terjadi.
7. Monitor temperatur setiap setiap 2 jam, pertahankan temperatur batas normal denganpemberian obat antiperetika.
8.  Monitor kondisi kardiovaskular dan pernafasan.
  9.   Cata vital sign setiap 1 – 4 jam.
10.  Pertahankan posisi kepala 30 derajat dan pertahankan posisi kepala secara netral dengan memasang bantal pasir.
11.  Monitor input dan output urin.
12.  Lakukan massage setiap 2- 4 jam untuk mencegah adanya tekanan pada tonjolan tulang.
13.  Robah posisi setiap 2 jam.

DAFTAR KEPUSTKAAN

Alexander (1995). Care of the patient in Surgery. (10 th ed.), St Louis ; Mosby. P : 855 – 930.
Doenges, Moorehouse & Geisser (1993). Nursing Care Plans ; Guidelines for planning and dokumenting patient care. (3rd ed) philadelphia ; F.A.Davis Company. p : 271 – 290.

Lemone & burke. (1996). Medical-Surgical Nursing ; critical thinking in client care. California : Addison-Wesley. p : 1720 - 1728

Lewis, Heitkemper & Dirkssen (2000). Medical –Surgical Mursing ; Assessment and management ofg clinical problems. St.louis : Mosby. P : 1720 – 171624 – 1630.

Luckman (1996). Core principles and practice of medical-surgical nursing. Philadelphia : W.B.Sauders Company. p ; 341 – 354

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CANCER LAMBUNG

Cancer lambung merupakan neoplasma maligna yang ditemukan di lambung, biasanya adenokarsinoma, meskipun mungkin merupakan limfoma malignansi. Diketahui bahwa cancer lambung 2 kali lebih umum terjadi pada pria daripada wanita dan lebih sering terjadi pada klien yang mengalami anemia pernisiosa.
Meskipun tidak ada faktor etiologi khusus yang dihubungkan dengan ca lambung, banyak faktor yang tampak berhubungan dengan perkembangan penyakit ini seperti inflamasi lambung kronik, anemia pernisiosa, ulkus lambung, bakteri Helicobacter Pylori dan faktor keturunan.
A.   PENGKAJIAN
Pengkajian data dasar meliputi :
1.    Riwayat atau adanya faktor resiko : aklorhidria atau anemia pernisiosa, riwayat ulkus gastrik
2.    Pemeriksaan fisik berdasarkan pada survei dapat menunjukkan :
Keluhan awal dari perasaan tak enak karena rasa penuh dan ketidaknyamanan setelah makan. Pasien sering menginterpretasikan gejala ini sebagai “kacau lambung” dan menggunakan obat di rumah dan antasida, yang memberi penghilangan sementara.
3.    Pemeriksaan diagnostik
·       Seri GI atas menunjukkan massa padat
·       Scan CT abdomen menunjukkan massa padat
·       Pemeriksaan endoskopi memberi visualisasi langsung terhadap lesi dan memungkinkan pengambilan spesimen untuk biopsi dan pemeriksaan sitologi
·       JDL menunjukkan anemia (hb, hmt, dan jumlah sel darah di bawah normal)
4.    Kaji perasaaan dan masalah pasien dan orang terdekat tentang penyakit.
5.    Kaji pemahaman pasien dan orang terdekat tentang penyakit, pemeriksaan diagnostik, dan tindakan.

B.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
2.    Nyeri berhubungan dengan distensi gastrik dari tumor lambung.
3.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan anemia dan malnutrisi sekunder terhadap kanker lambung.
C.  RENCANA KEPERAWATAN
Rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesui dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan.
Diagnosa Keperawatan I : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
Tujuan : klien dapat mempertahankan masukan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme dibuktikan dengan terpeliharanya berat badan normal
Intervensi :
1.    Dorong pemberian makan sedikit dan sering dengan makanan yang tidak mengiritasi untuk menurunkan iritasi lambung
2.    Berikan diet saring tinggi kalori, protein, vitamin, dan mineral. Anjurkan penggunaan suplemen makanan enteral (sustacal, ensure) bila masukan diet kurang dari 50%
Rasional : makanan pedas adalah iritan lambung. Sel-sel kanker dengan cepat membelah mengakibatkan laju katabolisme (pengrusakan jaringan) lebih besar daripada laju anabolisme (pembangunan jaringan). Diet karbohidrat tinggi menimbulkan efek penggunaan protein pada adanya keseimbangan nitrogen (protein) negatif.
3.    Berikan vitamin B12 parenteral secara pasti bila gastrektomi total dilakukan.
4.    Pantau kecepatan dan frekuensi terapi intravena
5.    Catat masukan, haluaran dan berat badan setiap hari.
6.    Kaji tanda-tanda dehidrasi (haus, membran mukosa kering, turgor kulit buruk, dan takikardia)
7.    Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium harian untuk memperhatikan adanya abnormalitas metabolik (Na, K, glukosa, nitrogen, dan urea darah)
8.    Kolaborasi dengan medik untuk pemberian antiemetik sesuai dengan ketentuan.
Rasional : mual menambah anoreksia
9.    Berikan sedikitnya 2500 ml cairan setiap hari
Rasional : untuk melindungi dari dehidrasi.

Diagnosa Keperawatan 2 : Nyeri berhubungan dengan distensi gastrik dari tumor lambung
Tujuan : mendemonstrasikan nyeri hilang dari ketidaknyamanan.
Kriteria evaluasi :
-         Melaporkan nyeri berkurang
-         Tak ada merintih
-         Ekspresi wajah relaks.
Intervensi :
1.    Anjurkan periode istirahat
Rasional : jaringan memerlukan oksigen lebih sedikit selama periode istirahat karena lebih sedikit energi diperlukan. Juga sekresi gastrik lebih sedikit selama istirahat.
2.    Anjurkan masukan anam kali porsi kecil sehari sebagai ganti makan porsi besar tiga kali
Rasional : kelebihan masukan makanan menyebabkan distensi gsatrik, yang menimbulkan nyeri lambung.
3.    Kolaborasi dengan tim medik untuk pemberian analgetik

Diagnosa Keperawatan 3 : intoleransi aktivitas berhubungan dengan anemia dan malnutrisi sekunder terhadap kanker lambung
Tujuan : mendemonstrasikan peningkatan toleransi terhadap aktivitas.
Kriteria evaluasi :
-         Keluhan kelelahan dan kelemahan berkurang bila melakukan aktivitas.
Intervensi :
1.    Pantau : warna dan konsistensi feses; tanda vital setiap 4 jam; respon terhadap aktivitas fisik (frekuensi pernapasan).
Rasional : untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan dari hasil yang diharapkan.
2.    Berikan bantuan pada aktivitas sesuai kebutuhan. Rencanakan periode istirahat selama siang hari.
Rasional : istirahat mengurangi penggunaan energi.
3.    Berikan pengobatan yang diprogramkan terhadap anemia (suplemen besi atau transfusi darah).
Rasional : besi diperlukan untuk eritropoeisis normal. Darah lengkap dapat diberikan bila hemoragi masif terjadi. SDM kemasan dapat diberikan untuk mengganti kehilangan sel darah bil avolume cairan adekuat.
4.    Lakukan pemeriksaan dengan hematest pada semua feses bila gelap. Konsul dokter bila feses menunjukkan guaiak positif.
Rasional : feses hitam, seperti ter menunjukkan perdarahan GI, menunjukkan tes guaiak positif.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

KLIK DISINI UNTUK MELIHAT SECARA DETAIL
DOWNLOAD KLIK DISINI
http://www.awsurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=andryan87
http://kumpulblogger.com/minibanner_desc.php?refid=156573
http://www.komisigratis.com/?id=andryan87


Blogspot Akhmad andryan

SILABUS MATA KULIAH JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

Program Studi                                          : Diploma Keperawatan
Kode Mata Kuliah                            : 50532
Nama Mata Kuliah                            : Keperawatan Komunitas I-A
Nama Dosen                                          : Supratman,SKM,M.Kes(Kep)
Jumlah SKS                                          : 2 (dua)
Semester                                          : 5 (lima)
Mata Kuliah Prasyarat                            : Psikologi Kesehatan, Komunikasi Dalam Keperawatan, ISBD, Promosi Kesehatan
Deskripsi Mata Kuliah              :
Mata kuliah ini membahas mengenai konsep tentang komunitas dan kelompok khusus anak sekolah serta kelompok khusus pekerja sebagai unit pelayanan keperawatan. Fokus bahasan dalam mata kuliah ini meliputi konsep komunitas dan kelompok khusus, konsep praktik keperawatan komunitas, lingkup praktik keperawatan komunitas, falsafah keperawatan komunitas, strategi dan pendekatan praktik keperawatan komunitas, serta ilmu kesehatan masyarakat yang menunjang. Kegiatan belajar dilakukan melalui kuliah dan diskusi.
Standar Kompetensi                            :
Mahasiswa memahami (1) komunitas dan kelompok khusus sebagai unit sasaran praktik keperawatan komunitas,   (2) berbagai faktor yang mempengaruhi status kesehatan komunitas dan kelompok khusus, (3) mensintesa/ mengintegrasikan ilmu kesehatan masyarakat kedalam praktik keperawatan komunitas dan kelompok khusus, (4) konsep sistem kesehatan nasional dan primary health care, (5) konsep, prinsip dan persfektif asuhan keperawatan komunitas dan kelompok khusus, (6) membangun kerjasama lintas sektor dan kerja di dalam tim, (7) melakukan pengkajian keperawatan komunitas dan kelompok khusus, (8) merumuskan diagnosa keperawatan komunitas dan kelompok khusus, (9) membuat perencanaan keperawatan komunitas dan kelompok khusus, (10) melaksanakan berbagai intervensi keperawatan komunitas dan kelompok khusus, (11) mengevaluasi asuhan keperawatan komunitas dan kelompok khusus, (12) mendokumentasikan asuhan keperawatan komunitas dan kelompok khusus, (13) mengaplikasikan strategi promosi kesehatan, kemitraan, pemberdayaan komunitas, pengorganisasian komunitas dalam praktik keperawatan komunitas, (14) menerapkan konsep dan prinsip legal, keselamatan dan kesehatan kerja dalam  melakukan praktik keperawatan pada kelompok khusus pekerja.

DOWNLOAD VERSI DOC/MS-WORD KLIK DISINI

DLL yang disiapkan Jika Cheat tidak tampil

d3dx43.dll (Folder PB)
msvcp100.dll (Folder PB)
msvcr100.dll (Folder PB)
d3dx9_42.dll (system32)
msvcp100d.dll (system32)
msvcr100d.dll (system32)
Atau kalian ingin yang sudah dipaketkan,
[-] DLL Folder PB <<< Jadi simpan dll yang ada di .rar ke dalam Folder PB mu.
[-] DLL System32 <<< Jadi simpan dll yang ada di .rar ke
  • C:\Windows\System (Windows 95/98/Me)
  • C:\WINNT\System32 (Windows NT/2000)
  • C:\Windows\System32 (Windows XP, Vista, 7)
Jika kamu menggunakan Windows versi 64-bit , kamu harus tempatkan .dll nya di C:\Windows\SysWOW64\
Apabila kalian masih tidak mengerti silahkan tinggal komentar kalian di bawah ini.
Terima Kasih ^_^
Download Multy Injector KLik Disini (untuk lost saga)
Download Multy Injector + processes KLik disini (untuk Geme Ofline)

Daftar isi Blog

Widget By: [Akhmad Andryan]

Update status FB Via BB - I-pade

http://hadi.web.id/fb.html http://hadi.web.id/facebook.html